Jember (beritajatim.com) – Pers memiliki tugas penting dalam pemilihan kepala daerah. Bukan hanya menyukseskan pemilu, tapi juga memberikan informasi kepada warga untuk memilih pemimpin yang tepat.
Hal ini dikemukakan Yunizar Wahyu Trisanto, advokat Brawijaya Law Firm, dalam acara lokakarya media tentang pemilihan kepala daerah, di Hotel Royal, Kabupaten Jember, Jawa Timur, Senin (30/9/2024).
“Pers berperan menjaga kebebasan beropini, keadilan, dan akuntabiliotas dalam masyarakat. Ia adalah cabang keempat pemerintahan. Ini lebih mendalam lagi, karena punya pengaruh dalam kebijakan. Bisa mempengaruhi kebijakan yang akan maupun sudah,” kata Yunizar.
Dalam konteks kepemiluan, menurut Yunizar, pers menjadi jembatan antara politisi yang membutuhkan suara dengan masyarakat sebagai pemilik suara. “Maka itu pers tidak bisa dilepaskan dari pemilu. Pers berperan penting agar masyarakat memimpin pemilih yang benar untuk lima tahun ke depan,” katanya.
Kendati aktif dalam pemilu dan berada di gelanggang yang sama dengan peserta pemilu, Yunizar mengingatkan, pers bukanlah pemain. “Namun opini yang dibangun pers yang diangkat dari masyarakat bisa menjadi acuan bagaimana sosok pemimpin yang diinginkan,” kata alumnus Universitas Brawijaya Malang ini.
Begitu pentingnya peran ini membuat politisi harus bisa menjaga hubungan baik dengan pers. “Politisi tidak boleh mengkhianati pers karena pers bisa membuat opini masyarakat tergiring untuk memilih calon tertentu,” kata Yunizar.
Namun kendati memiliki peran penting dan tugas mulia dalam penyebaran informasi bagi publik, Yunizar memahami jika pers juga bagian dari industri. Pemilu adalah ladang bisnis bagi media massa.
Dalam konteks ini, menurut Yunizar, pasangan calon sebenarnya bisa memahami jika pemberitaan paslon tertentu bisa lebih dominan daripada paslon lain di media massa.
“Selama tidak nenjelekkan paslon lain, oke-oke saja. Meskipun berita paslon A dua halaman, paslon B seperempat halaman, asalkan tidak menjelekkan, kami oke-oke saja,” kata pria yang pernah menjadi kuasa hukum pasangan calon independen di Malang.
Tantangan yang dihadapi pers cukup berat. Selain menghadapi berondongan informasi palsu dan misinformasi, menurut Yunizar, bisa saja ada tekanan politik dari pasangan calon. “Tekanan politik ini bisa mengancam independensi dan obyektivitas jurnalis dalam meliput. Namun yang paling berat adalah poengawasan dan ancaman keamanan,” katanya.
Di sinilah kemudian Yunizar mendukung perlindungan terhadsap jurnalis untuk bebas memberitakan sesuai fakta di lapangan. “Saya nornatif saja: jurnalis harus setia kepada kebenaran,” katanya. [wir]






