Surabaya (beritajatim.com) – Festival Rujak Uleg 2026 di Surabaya hadir dengan suasana berbeda lewat tema “Rujak Phoria” yang dipadukan dengan semangat euforia Piala Dunia 2026. Di tengah kemeriahan tersebut, Trufindo Asta Mandiri ikut ambil bagian dengan konsep kreatif bertajuk “Rujak Derby: Pertandingan Rasa Paling Panas Sedunia”.
Konsep yang diusung Trufindo mencoba menghadirkan pengalaman visual dan pertunjukan yang dekat dengan masyarakat. Seluruh elemen mulai kostum, desain meja, hingga yel-yel dibuat menyerupai pertandingan sepak bola dengan bahan rujak cingur sebagai “pemain utama”.
Manajer Operasional Trufindo Asta Mandiri, Djoko Ady, mengatakan konsep tersebut dipilih karena relevan dengan tema Festival Rujak Uleg 2026 yang dipenuhi semangat sport dan hiburan. Dia menyebut pendekatan itu juga menjadi cara untuk membawa kuliner tradisional tampil lebih segar tanpa meninggalkan identitas khas Surabaya.
“Festival Rujak Uleg tahun ini punya atmosfer yang sangat meriah karena dikaitkan dengan euforia Piala Dunia. Kami ingin ikut membawa semangat itu lewat konsep ‘Rujak Derby’, jadi ada perpaduan antara budaya lokal, kreativitas, dan hiburan yang bisa dinikmati semua kalangan,” kata Djoko Ady saat ditemui di Surabaya Expo Center (SBEC), eks THR-TRS, Sabtu (9/5/2026).
Dalam konsep tersebut, anggota tim Trufindo tampil sebagai personifikasi bahan rujak cingur seperti cingur, buah, petis, dan sayuran. Pertunjukan dikemas dalam alur cerita layaknya pertandingan sepak bola lengkap dengan komentator, koreografi mengulek, hingga selebrasi kemenangan.
Konsep “Rujak Derby” juga menghadirkan mini stadion di atas meja penyajian dengan cobek besar sebagai titik tengah pertandingan. Beberapa properti seperti gawang mini, lapangan hijau, dan jersey warna-warni digunakan untuk memperkuat nuansa kompetisi.
Tak hanya fokus pada hiburan, Trufindo juga tetap menjaga kualitas produk yang disajikan dalam perlombaan. Rujak cingur utama dibuat dengan komposisi petis yang seimbang, cingur empuk, serta tingkat kepedasan yang ramah untuk pengunjung umum.
Selain itu, Trufindo juga menyiapkan kreasi menu bertajuk “Rujak Golden Goal” dengan tampilan plating menyerupai bola. Kreasi tersebut dipadukan dengan elemen saus petis dan sentuhan jeruk nipis untuk memberikan rasa segar yang berbeda.
Djoko Ady mengatakan kebersihan dan kekompakan tim juga menjadi fokus utama festival tahunan tersebut. Menurut dia, konsep kreatif harus tetap dibarengi profesionalitas selama proses penyajian.
“Kami tidak hanya mengejar tampilan, tetapi juga ingin menunjukkan kerja tim yang rapi dan higienis. Tema boleh seru, tapi kualitas rasa dan proses penyajian tetap jadi prioritas kami,” ujar dia.
Sementara itu, CEO Trufindo Asta Mandiri, Yona Bagus Widyatmoko, mengatakan Festival Rujak Uleg memiliki potensi besar untuk terus berkembang sebagai event budaya unggulan Surabaya. Menurut dia, inovasi tema dan keterlibatan pelaku usaha menjadi kekuatan penting agar festival tetap relevan dan menarik setiap tahunnya.
“Kami berharap Festival Rujak Uleg bisa terus berkembang dan menjadi kebanggaan Kota Surabaya. Pemkot Surabaya sudah berhasil menjaga tradisi ini tetap hidup, tinggal bagaimana ke depan acaranya terus dibuat kreatif agar makin diminati generasi muda dan wisatawan,” kata Cak Yebe, sapaan lekatnya.
Dia juga berharap Festival Rujak Uleg di tahun-tahun mendatang semakin memberi ruang bagi kolaborasi komunitas, UMKM, hingga perusahaan lokal untuk ikut berpartisipasi. Menurutnya, keterlibatan banyak pihak akan membuat festival semakin kuat sebagai identitas budaya sekaligus penggerak ekonomi kreatif Kota Pahlawan.
“Harapan kami festival ini bisa terus konsisten hadir dengan konsep-konsep baru tanpa meninggalkan akar budaya Surabaya. Kalau pelaksanaannya terus berkembang dan partisipasinya semakin luas, Festival Rujak Uleg bisa menjadi ikon wisata budaya yang ditunggu masyarakat setiap tahun,” pungkas Ketua Komisi A DPRD Surabaya ini. [asg/kun]

as a preferred source on Google




