Jakarta (beritajatim.com) – Tren perjalanan yang secara khusus diperuntukkan bagi wanita kini semakin diminati.
Wanita masa kini semakin bersemangat dalam menunjukkan kemandirian dan otonomi mereka, dengan memilih untuk melakukan perjalanan solo yang memberikan mereka kebebasan dalam menentukan rencana perjalanan dan membangun kepercayaan diri.
Pengaruh dari media sosial, seperti Instagram, yang menyoroti pengalaman solo traveler wanita juga menginspirasi lebih banyak wanita untuk mencoba petualangan serupa.
Selain itu, faktor keamanan yang semakin baik dengan adanya infrastruktur yang mendukung dan meningkatnya kesadaran tentang keselamatan, membuat banyak destinasi semakin ramah bagi wisatawan wanita.
Indonesia, yang dikenal luas dengan keindahan alamnya dan keramahtamahan penduduknya, menjadi magnet bagi para solo traveler wanita.
Beberapa penyedia jasa perjalanan wanita, seperti Liftlifetravel, merespons kebutuhan ini dengan memperkenalkan perjalanan yang menggabungkan destinasi religi, petualangan, dan budaya.
“Selama 10 hari, wisatawan wanita, termasuk dari Amerika dan Kanada, akan diberikan pengalaman yang tak terlupakan. Mereka akan mengunjungi Jakarta terlebih dahulu untuk mendapatkan gambaran tentang ibu kota. Mengingat mereka berasal dari berbagai kota di Amerika dan Kanada, Jakarta kami jadikan titik pertemuan sebelum melanjutkan perjalanan ke Yogyakarta,” ujar Cornelia Nathalie, Country Leader Indonesia Liftlifetravel dalam keterangan tertulis kepada media, Rabu (14/8/2024).
Di Yogyakarta, para peserta diperkenalkan dengan budaya lokal, termasuk membajak sawah, menanam padi, membuat batik, dan bermain gamelan.
Mereka juga akan tinggal di rumah penduduk lokal, yang memberikan pengalaman autentik dan mendalam tentang kehidupan sehari-hari di Indonesia.
Amany Fuentes, seorang wisatawan dari Amerika, menyatakan bahwa ia sangat menyukai alam Indonesia, terutama ketika tinggal di desa yang mengingatkannya pada kampung halaman neneknya di Meksiko.
Selama di Yogyakarta, mereka juga menikmati arung jeram di Sungai Elo, mengunjungi Candi Borobudur yang merupakan Situs Warisan Dunia UNESCO, dan melihat Masjid Bawah Tanah serta Kesultanan Yogyakarta.
Setelah dua hari di Yogyakarta, para peserta akan melanjutkan perjalanan ke Banyuwangi dengan kereta api. Gunung Ijen, dengan fenomena bluefire-nya, menjadi salah satu destinasi yang paling dinantikan.
Perjalanan kemudian berlanjut ke Bali dengan menggunakan ferry. Di Bali, para peserta menikmati snorkeling di Amed, melukat di Pura Tirta Empul, mengunjungi Monkey Forest, dan surfing di Kuta.
Mereka sangat antusias mengikuti upacara dan tradisi melukat. Karena sifat petualangan perjalanan ini, para peserta sudah diberitahukan sebelumnya bahwa mereka tidak akan menginap di hotel berbintang, melainkan di rumah penduduk atau homestay, serta diwajibkan membawa backpack sebagai ganti koper. Pengalaman menggunakan toilet jongkok menjadi momen yang tak terlupakan bagi mereka.
Hal menarik dari perjalanan ini adalah seluruh peserta merupakan wanita dari berbagai kota yang sebelumnya tidak saling mengenal. Setiap pagi, diadakan sesi inspirasi di mana para peserta berbagi kata-kata inspiratif yang saling menguatkan.
Pada malam harinya, dilakukan sesi refleksi untuk mengucapkan terima kasih atas pengalaman dan pelajaran yang didapatkan hari itu. Salah satu cerita menarik adalah tentang seorang peserta yang memiliki alergi kelapa. Ketika mengalami reaksi alergi, sopir yang mengantar rombongan dengan sigap membawanya ke tempat pertolongan terdekat menggunakan sepeda motor. Malam itu, peserta tersebut mengungkapkan rasa terima kasihnya atas bantuan yang diberikan.
Kesimpulan
Dengan semakin banyaknya pilihan dan destinasi yang aman dan ramah bagi wisatawan wanita, perjalanan solo bagi wanita menjadi lebih mudah dan menyenangkan. Indonesia, dengan segala pesona dan keramahtamahannya, menawarkan pengalaman tak terlupakan bagi para wanita yang ingin menjelajahi dunia sendiri. (ted)






