Jember (beritajatim.com) – Partai Kebangkitan Bangsa di Kabupaten Jember, Jawa Timur, menghadapi banyak tantangan agar bisa tetap relevan dan bertahan. Satu-satunya jalan adalah dengan berada di tengah masyarakat dan memberi solusi terhadap persoalan sosial kekinian, terutama yang dialami generasi Z.
“Kita harus berubah. Kalau kita tidak berubah ya seperti Nokia,” kata Ketua Dewan Pimpinan Cabang PKB Jember Ayub Junaidi, usai acara ta’aruf dan konsolidasi kick off pengurus DPC PKB Jember 2025-2031, di Hotel Luminor, Kabupaten Jember, Selasa (7/7/2026).
Nokia adalah merek ponsel terkenal yang akhirnya jatuh karena terlambat beradaptasi dengan perkembangan zaman, dan tidak berinovasi untuk merespons perubahan pasar karena terlalu nyaman dengan kejayaan masa lalu. Akhirnya mereka kalah bersaing dengan merek lain. Kisah Nokia ini sering dijadikan contoh bagi pentingnya adaptasi.
Adaptasi sudah dilakukan secara bertahap oleh PKB. Diawali dengan semangat menjadi partai advokasi bagi masyarakat. “Seluruh anggota partai, khususnya anggota fraksi yang menjadi etalase dan kepanjangan tangan partai harus berada di tengah-tengah masyarakat, pada saat masyarakat membutuhkan. Bukan menjadi problem masyarakat,” kata Ayub.
Setiap Jumat, para anggota Fraksi Kebangkitan Bangsa DPRD Jember melakukan siaran langsung melalui media sosial untuk menerima aspirasi dari masyarakat. “Alhamdulillah dengan media sosial, masyarakat bisa berinteraksi dengan seluruh anggota Fraksi Kebangkitan Bangsa, baik menyampaikan aspirasi maupun hal-hal lain yang memang patut diperjuangkan,” kata Ayub.
Ayub meminta bantuan seluruh pengurus, kader, dan anggota fraksi untuk berjuang dan menjaga soliditas. “Kita tekadkan bagaimana PKB pada 2029 menjadi partai pemenang di Kabupaten Jember,” katanya.
Kaderisasi menjadi kunci. Tahun 2025, tercatat PKB Jember sudah mencetak dua ribu orang kader yang siap menggerakkan roda partai, terutama dalam menghadapi pemilihan umum mendatang. “Mereka adalah calon-calon pemimpin, rata-rata berusia maksimal 35 tahun,” kata Ayub.
Jumlah kader ini akan bertambah setiap tahun dan akan menjadi tulang punggung pencapaian target 12 kursi DPRD Jember pada pemilu berikutnya.
Diperkirakan kurang lebih 60 persen pemilih pada pemilu berikutnya adalah dari kalangan generasi Z yang lahir pada 1997-2012. “PKB harus menempatkan diri paham apa sih kebutuhan Gen Z. Teman-teman fraksi dan kader maupun pengurus harus paham bagaimana kepentingan untuk media sosial dan sebagainya,” kata Ayub.
Menurut Ayub, mayoritas kepengurusan PKB mulai dari level cabang hingga ranting diisi oleh anak-anak muda. “Kita tidak ingin menjadi partai tua,” katanya. [wir/suf]






