Pacitan (beritajatim.com) – Tradisi ziarah kubur menjelang Ramadan lazim dilakukan masyarakat secara pribadi atau keluarga. Namun berbeda dengan yang dilakukan warga Desa Wonoanti, Kecamatan Tulakan, Kabupaten Pacitan. Di desa ini, ziarah makam dilaksanakan secara massal dengan melibatkan seluruh warga.
Sejak pagi hari, ratusan warga memadati Kompleks Pemakaman Umum Kacangan di Dusun Pojok. Mereka datang berbondong-bondong untuk mencari dan membersihkan makam keluarga masing-masing. Daun kering dan rumput liar disingkirkan, sementara sebagian warga menaburkan bunga di atas pusara leluhur mereka.
Suasana pemakaman yang biasanya sepi berubah menjadi ramai. Tidak hanya kaum pria, perempuan hingga anak-anak remaja turut mengikuti kegiatan tersebut. Momen menjelang bulan suci Ramadan dimaknai sebagai waktu yang tepat untuk mengenang para sesepuh yang telah meninggal dunia.
“Tugas kita sebagai yang masih hidup adalah meneruskan kebaikan almarhum dan almarhumah, serta mendoakan agar mereka mendapat tempat terbaik di sisi Allah SWT,” ujar Handoyo, salah seorang warga setempat, Senin (16/2/2026).
Prosesi ziarah massal dipimpin oleh tokoh agama setempat, Nasruddin. Dengan mengenakan gamis dan kopiah, ia memulai kegiatan dengan salam yang disambut serempak oleh para peziarah. Doa bersama kemudian dilangsungkan dengan pembacaan tahlil selama kurang lebih 20 menit.
“Sumonggo kulo dherekaken sesarengan maos kalimah thayyibah tahlil sak jangkepipun kagem poro ahli kubur,” ucap Nasruddin sebelum memimpin doa.
Seluruh warga tampak khusyuk mengikuti rangkaian doa. Usai pembacaan doa, mereka serentak mengamini dan menengadahkan tangan sebagai penutup prosesi ziarah.
Meski acara telah selesai, warga tidak langsung pulang. Mereka memanfaatkan momen tersebut untuk saling berjabat tangan dan berbincang santai. Obrolan hangat seputar kehidupan sehari-hari hingga persiapan menyambut Ramadan terdengar di berbagai sudut pemakaman.
Penjabat Kepala Desa Wonoanti, Yudi Sutarta, mengatakan tradisi ziarah massal ini telah dilakukan secara turun-temurun dan menjadi kesepakatan bersama warga desa.
“Ziarah makam sebenarnya tradisi lama. Namun di Desa Wonoanti ini dilakukan secara bersama-sama agar semangat kebersamaan tetap terjaga,” kata Yudi.
Menurutnya, nilai utama yang ingin ditanamkan melalui tradisi ini adalah gotong royong, kekompakan, serta mempererat hubungan kekerabatan antarwarga. “Kami berharap tradisi ini terus dilestarikan karena mengandung nilai luhur kebersamaan dan penghormatan kepada para leluhur,” pungkasnya. (tri/kun)






