Ngawi (beritajatim.com) – Tradisi unik kembali digelar warga Desa Pelang Lor, Kecamatan Kedunggalar, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, pada Jumat (26/9/2025). Puluhan pemuda hingga anak-anak tampak antusias terlibat dalam tradisi tahunan perang nasi, sebuah ritual turun-temurun sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil panen yang melimpah.
Dalam acara yang hanya berlangsung sekitar 30 menit itu, ratusan bungkus nasi lengkap dengan lauk pauknya berserakan setelah dilemparkan antarwarga. Menariknya, meski terkena lemparan, tidak ada satu pun peserta yang marah atau menyimpan dendam. Bahkan penonton di sekitar lokasi pun tak luput dari sasaran lemparan nasi, membuat suasana semakin meriah.
Beberapa warga, terutama ibu-ibu, tampak nekat memunguti sisa nasi yang tercecer di arena untuk kemudian diberikan kepada ternak mereka. Sebelum prosesi dimulai, setiap kepala keluarga terlebih dahulu membawa dua hingga lima bungkus nasi lengkap dengan lauk, lalu dikumpulkan dan didoakan bersama. Barulah setelah itu perang nasi dimulai.
Kepala Desa Pelang Lor, Hariyana, menjelaskan bahwa tradisi ini telah dilakukan secara turun-temurun sebagai bentuk syukur atas rezeki pertanian. “Tidak ada yang menyimpan dendam atau luka. Kalau dulu nasi dibagikan kepada warga yang kurang mampu, kini berkembang menjadi perang nasi,” ujarnya.
Sementara itu, salah satu pengunjung, Devit Evra, mengaku terkesan dengan kemeriahan acara ini. “Seru banget melihat warga saling lempar nasi dalam rangka bersih desa. Ini pengalaman pertama saya menyaksikannya langsung,” ungkapnya.
Konon, tradisi perang nasi bermula dari kebiasaan warga yang berebut nasi karena khawatir tidak kebagian saat acara bersih desa. Dari aksi saling rebut itu, kemudian berkembang menjadi saling lempar, hingga akhirnya diwariskan sebagai tradisi tahunan yang tetap lestari hingga kini. [fiq/beq]






