Ponorogo (beritajatim.com) – Suasana Desa Glinggang, Kecamatan Sampung, Ponorogo, tampak semarak dengan digelarnya tradisi Methik Pari atau syukuran panen padi. Acara yang digelar setiap tahun ini bukan sekadar seremoni, melainkan wujud rasa syukur warga kepada Tuhan atas hasil panen yang melimpah.
Kepala Desa Glinggang, Gunung, menuturkan bahwa tradisi tersebut menjadi simbol kebersamaan sekaligus doa agar hasil tani warga selalu diberkahi.
“Tujuannya ini bentuk syukur terhadap Allah SWT bahwa seluruh warga Desa Glinggang diberi panen yang melimpah ruah, selamat. Maksudnya kemarin kan banyak serangan hama, dan di Glinggang semuanya selamat, panennya juga bagus,” kata Gunung, Kamis (21/8/2025).
Gunung mengungkapkan di Desa Glinggang ini, terdapat sekitar 110 hektare lahan pertanian yang mayoritas ditanami padi. Hampir seluruh petak sawah akan memasuki masa panen dalam sepekan ke depan. Sebagai kegiatan yang sudah berlangsung rutin dari tahun ke tahun, warga pun meyakini bahwa dengan tradisi ini, panennya diharapkan penuh keberkahan.
Prosesi methik pari dimulai dari Balai Desa, di mana warga berkumpul untuk menggelar doa bersama. Usai berdoa, mereka berjalan beriringan menuju area persawahan dengan membawa tumpeng. Di sawah, kebersamaan semakin terasa ketika warga melakukan ritual “bruncah buceng”, yakni makan bersama tumpeng dan ingkung sebagai simbol persaudaraan. Sebelumnya, orang yang dituakan di desa, melakukan prosesi methik pari. Pun dalam prosesi itu, juga diiringi tarian tradisional. “Total tumpengnya ada 200-an,” tegas Gunung.
Tradisi methik pari ini tidak hanya menjaga warisan budaya desa, tetapi juga memperkuat rasa gotong royong masyarakat. Di tengah tantangan pertanian, seperti serangan hama dan perubahan cuaca, warga Glinggang menjadikan acara ini sebagai pengikat semangat untuk terus menjaga sawah mereka. (end/kun)






