Gresik (beritajatim.com) – Menjelang malam 23 Bulan Ramadhan, tradisi kolak ayam digelar di Desa Gumeno, Kecamatan Manyar, Gresik. Tradisi turun-temurun yang masuk warisan budaya tak benda (WBTB) tersebut kembali semarak setelah sebelumnya terkendala adanya pandemi.
Kolak ayam yang sebagian besar dimasak oleh kaum hawa itu menghabiskan 2.500 porsi. Jika biasanya kolak itu berisikan pisang, di Desa Gumeno kolaknya berbahan dasar ayam.
Tradisi makanan ini diawali oleh Sunan Dalem anak dari Sunan Giri. “Dulu memang harus ayam jago, tapi karena sekarang membuatnya ribuan porsi jadi dicampur ayam jago dan betina,” ujar Suudin warga Desa Gumeno, Rabu (12/04/2023).
Untuk meracik kolak ayam ada daun bawang yang dicampur lalu dimasak. Kemudian ayamnya disajikan dalam irisan kecil-kecil. Selanjutnya, disajikan dalam satu piring.
Tradisi kolak ayam itu mulai muncul sejak tahun 1453 M. Awalnya, Sunan Dalem yang merupakan raja di Giri Kedaton tengah sakit keras. Beberapa obat tidak mampu menyembuhkanya. Kemudian putra dari Sunan Giri itu mendapatkan hidayah membuat ramuan kolak yang dicampuri ayam.
https://beritajatim.com/hukum-kriminal/warga-gresik-curi-2-anak-kambing-tertangkap-basah-akibat-motor-mogok/
“Saat makan Kolak Ayam atas izin Allah, sakit Sunan Ndalem sembuh. Sehingga, sejak saat itu beliau meminta kepada warga sekitar agar membuat kolak tersebut pada malam ke 23 Bulan Ramadhan,” kata Suudin.
Menurutnya, semula kolak ayam lebih populer dengan sebutan ‘Sanggering’ yang diartikan raja dan gering dalam Bahasa Jawa yakni sakit. Artinya, obat raja yang sakit. Namun seiring waktu jajanan pembuka pada malam Bulan 23 Ramadhan lebih terkenal dengan sebutan kolak ayam hingga sekarang. [dny/but]






