Gresik (beritajatim.com)- Suasana dapur tradisi tampak sibuk di area Masjid Jami’ Sunan Dalem, Desa Gumeno, Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik, Kamis (12/3/2026). Ratusan warga bergotong royong mengolah bahan dalam jumlah besar untuk membuat Kolak Ayam Sanggring, kuliner tradisi yang telah bertahan lebih dari lima abad.
Tradisi memasak kolak ayam ini digelar setiap malam ke 23 Ramadan dan menjadi salah satu ritual budaya sekaligus religi masyarakat Desa Gumeno.
Ketua Panitia Pelaksana Tradisi Sanggring, Didik Wahyudi mengatakan, tahun ini panitia menyiapkan bahan dalam jumlah fantastis.
“Sebanyak 240 ekor ayam, 225 kilogram bawang daun, 525 butir kelapa, 650 kilogram gula merah, serta 50 kilogram jinten bubuk diolah menjadi sekitar 3.000 porsi kolak ayam yang akan disajikan kepada para tamu dan masyarakat,” katanya.
Tradisi Sanggring bukan sekadar acara makan bersama. Ini merupakan simbol kepatuhan spiritual sekaligus bentuk penghormatan terhadap perjuangan dakwah Sunan Dalem, putra dari Sunan Giri.
Sejarah kolak ayam berawal dari kebiasaan Sunan Dalem yang membuat masakan tersebut sebagai obat ketika dirinya sakit saat membangun masjid di Desa Gumeno pada masa penyebaran islam di kawasan pesisir Gresik.
“Resep tersebut ternyata mujarab karena bisa menyembuhkan sakitnya Sunan Dalem, termasuk warga sekitar yang ikut mencicipinya,” ujar Didik Wahyudi.
Sementara itu, Bupati Fandi Akhmad Yani atau akrab dipanggil Gus Yani menuturkan, tradisi Sanggring diperkirakan telah ada sejak sekitar tahun 1541 Masehi, saat Sunan Dalem aktif menyebarkan islam di kawasan pesisir utara Gresik. Hingga kini, tradisi tersebut terus dipertahankan oleh masyarakat Desa Gumeno secara turun-temurun.
“Keberlangsungan tradisi ini menunjukkan kuatnya identitas religius dan sosial masyarakat setempat,” tuturnya.
Ia menambahkan, Sanggring Kolak Ayam merupakan warisan ratusan tahun yang harus terus dilestarikan, terutama di tengah perkembangan Gresik sebagai kota industri.
“Keunikan tradisi ini juga telah mendapatkan pengakuan nasional. Pada tahun 2019, tradisi Kolak Ayam Sanggring resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia (WBTbI) oleh pemerintah.
Penetapan tersebut semakin menguatkan posisi Sanggring sebagai salah satu identitas budaya masyarakat Gresik.
“Generasi muda harus diberi wawasan tentang tradisi kolak ayam ini, supaya tetap bertahan dan menjadi kebanggaan masyarakat Gresik,” imbuhnya.
Di tengah aroma gula merah, santan, dan rempah yang mengepul dari tungku besar, tradisi Sanggring kembali mengingatkan bahwa warisan budaya bukan sekadar cerita masa lalu, melainkan identitas yang terus hidup dari generasi ke generasi. [dny/aje]






