Malang (beritajatim.com) – Gedung Bundar Universitas Islam Malang (Unisma) siang itu tak seperti biasa. Sabtu (5/7/2025), deretan kursi plastik terisi penuh oleh 1.500 anak yatim, piatu, dan dhuafa yang datang dari berbagai penjuru Malang Raya. Sebagian dari mereka menggenggam tangan pendamping, sebagian lain melangkah mandiri, mengenakan baju putih bersih atau seragam sekolah.
Mereka bukan tamu biasa. Mereka adalah inti dari acara Gebyar Muharram 1447 H, sebuah tradisi tahunan yang rutin digelar Unisma setiap 10 Muharram, bulan yang dalam sejarah Islam dikenal sebagai bulan keprihatinan.
Namun di Gedung Bundar itu, yang terasa bukan duka, melainkan kehangatan dan harapan. “Kami ingin mengisi keprihatinan Muharram dengan membahagiakan anak-anak yatim, piatu, dan dhuafa. Kegiatan ini sudah menjadi bagian dari jiwa Unisma,” ujar Rektor Unisma, Prof. Drs. H. Junaidi, M.Pd., Ph.D., dalam sambutannya yang disampaikan penuh kelembutan.
Di hadapan ratusan anak-anak dan pendamping, Rektor Junaidi tidak hanya berbagi nasihat, tetapi juga mengajak mereka menyatu dalam doa. Bukan hanya untuk dirinya atau kampus, tetapi untuk masa depan semua yang hadir. Ia memimpin doa panjang agar Unisma tetap menjadi lembaga pendidikan yang barokah dan bermanfaat bagi umat.
“Doakan ya, agar kampus kita ini terus tumbuh, mahasiswa-mahasiswinya ilmunya barokah, dan kelak anak-anakku yang hadir di sini bisa kuliah di Unisma. Jadi anak-anak yang saleh, pintar, dan membanggakan,” katanya, disambut jawaban serempak, “Aamiin!”
Suasana religius itu berpadu dengan keceriaan. Setiap anak yang hadir mendapatkan bingkisan dan makan siang. Mereka disambut dengan ramah oleh panitia dan relawan mahasiswa Unisma yang sejak pagi telah bersiap.
Tidak ada yang dibuat kaku. Anak-anak dibiarkan bercengkerama juga menikmati kehangatan kampus seolah itu rumah mereka sendiri. Di sela-sela makan bersama, tawa kecil terdengar dari sudut ruangan.
Kegiatan ini, tidak semata seremonial. Bagi Rektor Unisma Unisma, ini adalah bentuk konkret dari visi sebagai universitas rahmatan lil ‘alamin: kampus yang tak hanya mengedepankan akademik, tapi juga hadir untuk masyarakat, terutama mereka yang sering terpinggirkan.
Unisma telah rutin melaksanakan kegiatan ini selama bertahun-tahun. “Mereka tidak datang hanya untuk diberi. Kami justru merasa banyak menerima. Doa-doa tulus mereka adalah bekal kami,” ujar Prof Junaidi.
Tak sedikit mahasiswa yang ikut terlibat merasa tersentuh. “Melihat mereka tersenyum, rasanya semua lelah persiapan ini terbayar. Kami belajar empati hari ini,” kata seorang mahasiswa semester 8, Rizal, melihat suasana. (dan/kun)






