Pasuruan (beritajatim.com) – Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Wonokerto, Kabupaten Pasuruan, kini bertransformasi menjadi sumber energi alternatif. Gas metan yang dihasilkan dari tumpukan sampah berhasil dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan dapur 30 kepala keluarga (KK) di sekitar TPA.
Inisiatif ini diambil sebagai upaya agar warga sekitar TPA tidak hanya terkena dampak negatif seperti bau menyengat, tetapi juga merasakan manfaat dari pengelolaan sampah yang lebih inovatif.
Wakil Bupati Pasuruan, M. Shobih Asrori, menegaskan bahwa persoalan sampah merupakan tantangan yang harus dihadapi dengan solusi berkelanjutan.
“Pengelolaan sampah harus terus dioptimalkan, terutama dengan meningkatnya penggunaan plastik yang sulit terurai,” ujar Gus Shobih saat uji coba pemanfaatan gas metan di TPA Wonokerto.
Menurutnya, pemanfaatan gas metan di TPA menjadi langkah strategis yang tidak hanya berdampak positif bagi lingkungan, tetapi juga bagi kesejahteraan masyarakat sekitar.
“Ini bentuk kepedulian pemerintah daerah agar warga sekitar TPA tetap mendapatkan manfaat dari pengelolaan sampah yang lebih baik,” tambahnya.
Proses pemanfaatan gas metan dilakukan melalui beberapa tahapan. Gas metan yang dihasilkan dari dekomposisi sampah ditangkap melalui sistem pipa khusus, lalu dialirkan ke instalasi pengolahan untuk dimurnikan menjadi biogas.
Biogas ini kemudian disalurkan ke rumah-rumah warga melalui jaringan pipa yang aman untuk penggunaan jangka panjang.
“Untuk tahap awal, kami estimasi bisa memenuhi kebutuhan 30 KK. Ke depan, akan kami kembangkan dengan instalasi yang lebih luas agar manfaatnya semakin dirasakan masyarakat,” ungkap Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Pasuruan, Taufikhul Ghony.
Manfaat pemanfaatan gas metan ini antara lain:
- Mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil
- Mengurangi emisi gas rumah kaca
- Menekan dampak negatif dari tumpukan sampah
- Menjadikan sampah sebagai sumber energi berkelanjutan
Dengan inovasi ini, TPA Wonokerto diharapkan menjadi model percontohan pengelolaan sampah berkelanjutan bagi daerah lain.
“Kami berharap, inovasi ini dapat menjadi inspirasi bagi daerah lain dalam memanfaatkan sampah sebagai energi alternatif yang ramah lingkungan,” pungkas Gus Shobih. [ada/beq]






