Jember (beritajatim.com) – Fajar Junaedi, doktor komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, memberikan tips cara mengoptimalkan media sosial di hadapan mahasiswa yang mengikuti seminar nasional, di Gedung Zaenuri Universitas Muhamadiyah Jember, Kabupaten Jember, Jawa Timur, Rabu (1/3/2023).
Fajar mengisahkan kembali kondisi media massa di Indonesia pada 2006. “Saat itu koran sangat powerfull. Kalau mau mengakses internet, kita harus ke Warnet (Warung Internet). Kampus belum ada wi-fi. Laptop yang punya bisa dihitung dengan jari. BBM (Blackberry Messenger) belum ada. Adanya baru Friendster,” katanya dalam seminar yang merupakan kerja sama Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo dan Universitas Muhammadiyah Jember tersebut.
Namun hari ini 50 persen penduduk dunia menggunakan media sosial internet dan 84 persen di antaranya berusia 18-29 tahun. “Waktu yang digunakan untuk online 2,5 jam. Waktu salat kita saja kalah. Apalagi puasa, pasti jamnya akan bertambah. Ngabuburit, menunggu berbuka, pasti dolanan Tiktok,” kata Fajar.
Baca Juga: Inflasi Januari di Jember 0,18 Persen, Tertinggi Rokok dan Beras
Saat ini, media sosial memegang peran penting. “Sekitar 73 persen marketer percaya bahwa media sosial itu penting untuk marketing, Sekitar 54 persen konsumen menggunakan media sosial untuk mencari produk,” kata Fajar.
“Orang akan merekomendasikan brand kalau mereka punya pengalaman yang bagus. Jangan lupa menulis di Google Review,” kata Fajar.
Di media sosial, influencer atau pemberi pengaruh bertujuan membawa sebuah brand berada di puncak pikiran (top of mind) publik. “Konsumen akan membeli produk kalau ada rekomendasi dari influencer,” kata Fajar.
Saat ini platform Instagram sedang tumbuh. Ada 1,3 miliar pengguna Instagram pada 2022, sebanyak 70.8 persen di antaranya berusia di bawah 35 tahun. “Rata-rata anak muda menyukai Instagram. Jadi kalau Anda punya produk, marketnya adalah anak muda, maka gunakanlah Instagram,” kata Fajar.
Dunia bisnis dan korporasi banyak menggunakan Instagram. “IG (Instagram) bisa meningkatkan engagement empat kali lebih banyak. Jadi jika di Facebook Anda disukai 10 orang, maka di IG kemungkinan di-like 40 orang,” kata Fajar.
Baca Juga: Perumda Perkebunan Kahyangan Jember Cuma Bisa Bayar 80% UMK 2018
Fajar menyarankan kepada mahasiswa agar bisa mendampingi pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) agar bisa berjualan di Instagram Live, Tiktok Live, dan sebagainya. “Teman-teman mahasiswa punya ilmunya,” katanya.
Sementara itu platform Twitter lebih bagus digunakan untuk bisnis antarperusahaan. “Bukan business to consument,” kata Fajar yang juga anggota Bonek Writers Forum ini.
Namun Facebook masih menjadi market leader (pemimpin pasar). Sebanyak 86 persen pemasar menggunakan Facebook untuk mengiklankan produk. “Jadi jangan lupakan Facebook untuk marketing, apalagi untuk generasi tua seperti saya yang berusia 40 tahun ke atas,” kata Fajar.
Youtube juga penting untuk pemasaran produk. “Kalau Anda menggarap klien, Youtube harus digarap, karena pencarian ada banyak di Youtube,” kata Fajar.
Terakhir, Fajar menyarankan kepada generasi muda untuk bisa meningkatkan citra diri dengan bijak dalam bermedia sosial. “Brand yourself. Jadi garaplah media sosial Anda dengan baik. Jangan pernah membuat story, status Twitter ketika Anda sedang emosi. Jejak digital itu kejam,” katanya. [wir/beq]






