Surabaya (beritajatim.com) – Tionghoa, Islam, dan Jawa. Tiga frasa yang berhubungan sangat erat sejak berabad-abad lamanya. Tiga kata itu juga kita temui di beberapa titik perjalanan menyusuri “puing-puing” sejarah penyebaran Islam di Nusantara, terutama di Jawa Timur.
Beberapa kali kita disuguhi ornamen-ornamen Tionghoa yang berpadu dengan kebudayaan Islam dan juga Jawa. Seperti di Makam Sunan Bonang contohnya, terdapat piring porselen bermotif khas Tionghoa yang menempel erat di gapura komplek makam.
Perjalanan merakit “puing-puing” agar bisa terlihat kembali wujudnya menuai banyak kisah. Kisah yang dicurahkan oleh informan-informan dengan segudang cerita. Mulai perjalanan para sunan, mitos, dan pengaruh bangsa Tionghoa mereka curahkan.
Menurut cerita, konon Bangsa Tionghoa cukup berpengaruh terhadap Islamisasi di Pulau Jawa. Mulai dari rombongan Sunan Ampel yang memiliki darah Tionghoa, hingga arsitektur di komplek-komplek makam berbau Tionghoa.
Tak lupa pula sosok Cheng Ho. Laksamana Cheng Ho menjadi salah satu sosok Tionghoa yang menapakan kakinya di Pulau Jawa. Bahkan sebelum Wali Songo datang.

Dari tujuh ekspedisi Cheng Ho ke Nusantara, hanya sekali saja kapal megahnya tak bersandar di Pulau Jawa yang diceritakan oleh Wakil Dekan Wakil Dekan Fakultas Adab dan Humaniora Dr. H. Muhammad Khodafi, M.Si. Hadirnya Bangsa Tionghoa yang datang di pesisir Pulau Jawa sebelum walisongo menjadikan asimilasi tak terelakan.
“Semua tujuh ekspedisi Cheng Ho itu, enam ekspedisi Cheng Ho mampir di Jawa, selain Sumatera. Artinya sebenarnya proses interaksi dengan Islam dari Cina itu sudah terjadi sejak lama dalam ekspedisi Cheng Ho itu,” tutur Sang Mentor pada Jumat, 15 Maret 2024 lalu.
Asimilasi Tionghoa, Islam, Jawa hingga kini pun masih bisa kita rasakan adanya. Rasa tersebut dapat kita temukan di wilayah Surabaya Utara, tepatnya di sekitar komplek Sunan Ampel. Disana kita dapat menemukan wilayah yang heterogen.
Ada pecinan, kampung arab, dan juga perkampungan warga lokal yang telah berpuluh-puluh tahun menetap. Vibes itu juga kita rasakan saat menyusuri sekitaran komplek pemakaman Sunan Bonang.
Asimilasi juga menyentuh dunia kuliner. Ada Bubur Muhdhor dan Bubur Suro di Tuban dengan cita rasa khas Timur Tengah. Keduanya hanya ada saat Bulan Suci Ramadhan. Saat pertama kali melihat proses pembuatannya, kami kira rasanya seperti bubur-bubur Jawa dengan rasa manisnya.

Warnanya sama persis seperti bubur merah, tapi saat kami diberi sepiring buburnya oleh pengurus yayasan dan mencoba setelah adzan maghrib. Kami sedikit terkejut, rasanya sangat gurih khas gulai dari Arab, berbeda dengan prasangka kami yang mengira rasanya manis.
Kedua bubur itu berada di dua tempat berbeda. Bubur Muhdhor berada di komplek Masjid Al-Muhdhor, Kelurahan Kutorejo, Kabupaten Tuban. Lalu, Bubur Suro dapat dijumpai di komplek pemakaman Sunan Bonang.






