Surabaya (beritajatim.com) – Tim mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) yang tergabung dalam Baraga merancang desain jembatan bentang panjang yang menggabungkan teknologi canggih dan ramah lingkungan.
Anggota tim Baraga, Moch Choirul Akbar Majid menjelaskan bahwa desain jembatan ini dibuat untuk menciptakan infrastruktur yang kokoh, aman, dan ramah lingkungan.
Selain itu, jembatan ini juga dirancang untuk mempermudah pejalan kaki dan mencerminkan budaya lokal. “Kami berusaha menggabungkan efisiensi struktur, teknologi, dan nilai budaya lokal,” ujar Akbar, Jumat (29/11/2024).
Jembatan yang diberi nama Arunika ini memiliki panjang 180 meter dan lebar 30 meter. Desainnya mengusung tipe half through arch bridge dengan tiga pelengkung di sisi kanan, kiri, dan tengah, untuk mendistribusikan beban secara optimal. Lantai jembatan untuk kendaraan terletak di tengah dengan empat jalur dua arah.
Tim Baraga juga menerapkan Smart Bridge Monitoring System (SBMS) yang dilengkapi sensor canggih seperti strain gauge, accelerometer, dan warning lack system untuk memantau kondisi jembatan secara real-time.
“Sensor ini akan memberi peringatan dini jika ada bagian jembatan yang mengalami kerusakan,” jelas Akbar, yang merupakan mahasiswa Departemen Teknik Sipil tersebut.
SBMS juga memungkinkan pengiriman data kerusakan ke pusat kontrol yang kemudian memanfaatkan drone untuk memeriksa titik kerusakan dan memvisualisasikannya dengan Augmented Reality (AR). Sistem ini didukung oleh kecerdasan artifisial untuk menganalisis masalah dan solusi.
Selain itu, tim Baraga juga memanfaatkan sumber energi ramah lingkungan untuk mendukung operasional sensor, seperti penggunaan piezoelectric pada polisi tidur dan trotoar yang mengubah hentakan kendaraan dan pejalan kaki menjadi energi listrik, serta panel surya.
Jembatan ini juga menggunakan beton fly ash untuk mengurangi emisi karbon, dan dilengkapi dengan self-healing concrete berbasis bakteri Bacillus Subtilis yang dapat memperbaiki retakan secara otomatis.
Trotoar selebar 2,5 meter dilengkapi dengan penuntun jalan untuk penyandang tunanetra, serta pagar pembatas bergaya batik yang mencerminkan kearifan lokal.
Inovasi ini berhasil meraih juara II dalam Civil Expo 2024 pada kategori National Bridge Design Competition yang diselenggarakan oleh Departemen Teknik Sipil ITS. “Semoga semakin banyak jembatan yang tidak hanya fungsional tetapi juga memberikan manfaat bagi masyarakat,” harap Akbar. [ipl/ian]






