Surabaya (beritajatim.com) – Tim mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) mengembangkan aplikasi deteksi tanda vital bernama VisMoIR. Aplikasi ini mampu mendeteksi tanda vital tubuh secara non-kontak dengan memanfaatkan sinar inframerah.
Ketua Tim We Can, Anadya Ghina Salsabila menjelaskan, inovasi ini mampu mendeteksi detak jantung, laju pernapasan, dan suhu tubuh secara lebih efisien, mengingat seringnya keterbatasan sumber daya dalam pengukuran konvensional.
VisMoIR menggunakan kamera citra termal yang mendeteksi radiasi inframerah, mengubahnya menjadi suhu, dan menampilkan dalam bentuk citra termal. “Kamera ini dapat mendeteksi perubahan suhu tubuh secara real time,” ungkap Nadya, Rabu (16/10/2024).
Proses kerja aplikasi melibatkan beberapa tahapan, antara lain akuisisi data, deteksi Region of Interest (ROI), ekstraksi sinyal, dan pemfilteran adaptif spatio-temporal. Proses dimulai dengan merekam video termal wajah selama 60 detik di lingkungan bersuhu normal, di mana data tersebut kemudian diolah.
Nadya menjelaskan, dua jenis ROI dideteksi, yakni ROI wajah untuk suhu tubuh dan detak jantung, serta ROI hidung untuk laju pernapasan. Deteksi suhu dilakukan dengan memisahkan wajah dari latar belakang noise, khususnya pada area mata, yang sering dijadikan referensi suhu tubuh.
Untuk mendeteksi laju pernapasan, algoritma Haar Cascade digunakan untuk fokus pada area hidung. Ekstraksi sinyal dilakukan untuk mengonversi data dari kedua ROI menjadi informasi detak jantung.
Tim ini juga mengembangkan algoritma baru, adaptive spatio-temporal filtering, untuk meningkatkan kualitas gambar dengan menghilangkan noise. Algoritma ini diintegrasikan dengan machine learning XGBoost untuk memproses data tanda vital.
Uji coba menunjukkan tingkat akurasi yang tinggi, suhu tubuh 99,57%, laju pernapasan 95,35%, dan detak jantung 98,71%. Keakuratan ini menunjukkan potensi VisMoIR sebagai alat skrining kesehatan yang efektif.
Tim We CAN, yang terdiri dari Nadiya Azka dan Michelle Casey ini meraih medali emas di Gemastik XVII tahun 2024 dalam kategori Karya Tulis Ilmiah (KTI). “Kami berharap inovasi ini dapat meningkatkan efisiensi dalam pelayanan kesehatan,” tutup Nadya. [ipl/aje]






