Sidoarjo (beritajatim.com) – Bambang Haryo Soekartono bersama timnya BHS Peduli santuni keluarga Giniati warga Mega Asri Desa Tenggulunan Kecamatan Candi Sidoarjo yang meninggal dunia akibat tertabrak Kereta Api (KA) komuter Jenggala, saat melintas di perlintasan tanpa palang pintu di Desa Sumokali, Kecamatan Candi.
Tim BHS Peduli tiba di rumah duka ditemui oleh suami korban dan orang tua korban. BHS mengungkapkan rasa duka cita yang mendalam atas musibah yang dialami korban.
Korban saat melintas dari arah utara menuju rumah korban tertabrak KA bersama motor yang dikendarainya jenia Honda Vario Nopol W 2179 NDU, dan sempat terseret hingga 10 meter.
Kepada keluarga korban, Tim BHS Peduli juga memberikan santunan uang tunai. “Kami ikut berbelasungkawa atas musibah yang dialami korban,” ucap Bambang Haryo Soekartono Kamis (13/4/2023).
Ketua Harian Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Jawa Timur itu bercerita, sebelum mendatangi rumah duka, dirinya juga mendatangi perlintasan lokasi kecelakaan yang dialami korban.
https://beritajatim.com/politik-pemerintahan/bhs-larangan-mudik-lebaran-2023-pakai-motor-tidak-solutif/
Ia menilai sistem sirine tanda peringatan (early warning system) di lokasi yang mengalami kerusakan, harus segera dilakukan perbaikan oleh pihak yang berwenang, dalam hal ini Dinas Perhubungan Kab. Sidoarjo.
“Warga melaporkan kalau tanda peringatan itu sudah lama rusak, namun tak juga ada perbaikan,” ucap Bambang Haryo Soekartono menirukan pengakuan warga di lokasi.
BHS menegaskan, tanda peringatan untuk upaya keselamatan para pelintas KA harus segera dilakukan. Jika tidak, bisa mungkin akan ada korban lagi. Dari keterangan warga, sudah ada 7 korban di perlintasab tersebut. “Terhitung sudah 6 korban mengalami meninggal dunia di lokasi, dan satu korban bisa selamat,” terangnya.
Ditambahkan BHS, rel KA yang melintang di Sumokali itu seharinya dilintasi dua kali laju kereta api yang pulang pergi (PP) jurusan Mojokerto. Jika ada rencana dari pihak KAI nantinya sebanyak tiga kali pulang pergi, ya harus dilakukan pemasangan palang pintu.

“Sekarang dua kali melintas (PP red,) sering menimbulkan korban, apalagi kalau nanti sampai ada pemberlakuan tiga kali PP, jelas harus ada keharusan di lokasi dipasang pintu rel KA.
Masyarakat yang meintas di perlintasan rel KA tanpa palang pintu banyak sekali. Karena akses tersebut bisa menghubungkan dari desa ke desa lainnya,” tegasnya dengan menyebut nanti juga akan membantu memasang sirine tanda peringatan di lokasi.
Ketua RT 2 RW 1 Desa Sumokali Solikan membenarkan masyarakat yang melintas kadang kurang waspada karena di lokasi sirine peringatan akan adanya kereta api melintas, mikik Dishub Sidoarjo, tidak berfungsi.
“Sudah lama rusak, entaj kenapa tak juga diperbaiki. Warga sekitar menginginkan sirine itu berfungsi atau diperbaiki lagi. Jika sudah fungsi, saya yakin akan mendatangkan kewaspadaan warga,” terangnya.
Wayono salah satu petugas KAI Daop 8 membenarkan akan ada rencana rel KA di Sumokali itu akan dilintasi kereta api sehari 3 kali pulang pergi.
“Saya meminta warga dan semua pengendara atau pejalan kaki yang akan melintas di atas rel KA, harus tetap waspada dan hati-hati. Karena laju kereta tidak bisa hentikan,” anjurnya.
Terpisah Kepala Dishub Kab. Sidoarjo Benny Airlangga menyatakan perbaikan sirine peringatan kerata api akan melintas yang rusak di lokasi, akan segera dilakikan perbaikan. “Kami akan segera memperbaiki,” janjinya. (isa/ted)






