Sumenep (beritajatim.com) – Tim ahli dari Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang membeberkan hasil observasi di Desa Moncek Tengah, Kecamatan Lenteng, Kabupaten Sumenep, terkait fenomena alam berupa bunyi serupa ketukan disertai getaran.
Survei geofisika lanjutan tersebut dilakukan dengan menggunakan metode ‘Ground Penetrating Radar’ (GPR) dengan mengambil sampel dari pusat bunyi seperti di dalam rumah, jalan, dan di sekitar getaran.
Plt Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) ITN Malang sekaligus ahli geofisika/seismologi ITN Malang Ratri Andinisari mengatakan, pihaknya telah mengambil sampel pantulan gelombang radio dari titik pusat bunyi itu.
“Ada 3 lokasi yang menjadi target survei GPR, yakni rumah yang ketukannya terasa paling keras. Ini ada 2 rumah dan area sekitar toko, kemudian lokasi yang ketukannya samar itu di halaman rumah. Selain itu lokasi ketiga di lapangan seberang rumah sebagai variabel kontrol,” terangnya, Kamis (31/08/2023).
Metode GPR dilakukan dengan menggunakan alat yang menembakkan gelombang radio ke dalam tanah. Dengan demikian, akan diketahui struktur permukaan tanah di lokasi pusat bunyi itu.
“Hasilnya mengindikasikan adanya struktur batu gamping tersaturasi dan berongga, di sepanjang tembok rumah yang berbatasan dengan jalan. Area struktur batu gamping dan berongga ini merupakan area bunyi terdengar keras disertai getaran,” kata Ratri.
Lebih lanjut ia menjelaskan, sejalan dengan survei mikro seismik yang telah dilakukan BMKG Pasuruan dan Badan Geologi KESDM, bunyi ketukan misterius itu kemungkinan besar dipicu oleh mekanisme ‘water hammer’.
Batuan gamping yang berpori memungkinkan terjadinya rembesan fluida. Kemudian aktivitas gempa ‘swarm’ di sekitar lokasi menyebabkan perubahan tekanan tiba-tiba di sekitar area akumulasi fluida.
“Ini kemudian menekan udara yang terjebak dan menyebabkan resonansi getaran oleh rongga-rongga. Hal ini mengakibatkan terdengarnya suara ketukan dari bawah tanah disertai dengan getaran,” paparnya.
Namun Ratri meyakini bahwa lokasi itu tetap aman untuk ditinggali karena tidak menunjukkan adanya amblesan atau retakan meski terdeteksi ada rongga di bawah tanah.
“Hanya saja warga harus tetap waspada. Selain itu, di lokasi yang terdeteksi ada rongga di bawah tanah tidak boleh ada aktivitas atau beban berlebihan seperti bangunan bertingkat atau aktivitas warga berskala besar,” ucapnya.
Ratri juga meminta agar pelatihan mitigasi bencana terutama untuk bencana longsor dan tanah ambles, harus segera diberikan pada warga Desa Moncek Tengah. (tem/kun)
BACA JUGA: Pengedar Sabu di Sumenep Dibekuk Polisi saat Hendak Transaksi Dalam Kamar






