Pasuruan (beritajatim.com) – Sekolah Rakyat (SR) Kabupaten Pasuruan kembali mengalami dinamika setelah tiga siswanya keluar pada pertengahan semester ini. Meski begitu, kekosongan langsung terisi karena adanya sistem cadangan yang sudah disiapkan.
Plt Kepala Dinas Sosial Kabupaten Pasuruan, Fathur menjelaskan, setiap siswa pengganti mendapat kelas khusus untuk mengejar ketertinggalan. Hal ini penting karena mereka baru masuk saat semester sudah berjalan.
“Ada kelas khusus supaya anak-anak yang baru bisa menyesuaikan. Kalau SMP dan SMA cadangannya banyak, tapi untuk SD memang terbatas,” jelasnya, Rabu (6/10/2025).
Ia menambahkan, saat ada tiga siswa yang keluar, posisi itu bisa langsung diisi oleh siswa cadangan. Dengan begitu, jumlah siswa tetap terjaga sesuai kuota.
“Makanya ketika ada tiga siswa keluar kemarin, langsung terisi. Jadi tidak ada kekosongan di kelas,” imbuhnya.
Sebelumnya, tiga siswa resmi keluar dari asrama SR. Dua di antaranya pulang atas permintaan orang tua, sedangkan satu siswa dikeluarkan karena melakukan pelanggaran berat.
Pihak sekolah sebenarnya sudah berusaha membujuk agar orang tua tidak menarik anaknya. Namun, upaya itu gagal karena keluarga bersikeras tidak mengizinkan anak mereka tetap tinggal di SR.
“Sudah kami ajak bicara baik-baik, tapi orang tua tetap tidak mengizinkan. Akhirnya kami harus melepasnya,” ungkap Kepala Sekolah SR, Julianto.
Untuk siswa yang dikeluarkan, kasusnya cukup serius karena terkait tindakan bullying. Bahkan, korban dari perbuatan itu sampai memicu kegaduhan di lingkungan sekolah.
“Kami tidak bisa menoleransi bullying. Karena itu, keputusan dikeluarkan sudah melalui pertimbangan matang,” tegas Julianto.
Dengan adanya pengisian dari cadangan, sekolah dan Dinsos berharap kondisi kembali kondusif. Selain itu, pengawasan terhadap siswa akan diperketat agar kasus serupa tidak terulang. [ada/aje]






