Mereka adalah trio pembawa perubahan di Desa Air Enau, Kecamatan Rambang Niru, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan. Catat nama-nama mereka: Saryono, Yupika Diyanti, dan Maryati. Tiga orang yang menulis sejarah kecil di antara pepohonan kelapa sawit.
Saryono adalah seorang petani tangguh keturunan Jawa yang mengolah lahan kelapa sawit seluas empat hektare. Sebelumnya, dia tinggal di Lampung dan becocok tanam padi. Dia pindah ke Muara Enim karena berharap kelapa sawit memberikan pendapatan lebih.
Tahun 2020, Saryono membentuk Kelompok Tani Enau Jaya yang kemudian diketuainya. Kelompok tani ini beranggotakan 25 orang. Kelapa sawit baru bisa dipanen empat sampai lima tahun setelah ditanam. Maka mereka pun menanam jagung untuk mempertahankan hidup.
Namun tentu saja itu tak mudah. Ketiadaan alat sarana pertanian yang memadai membuat Saryono dan kawan-kawan sulit berkembang. “Namanya orang bertani, modal terbatas,” katanya.
Medio 2022, petugas pengembangan komunitas PT Pertamina EP Field Limau yang merupakan bagian dari Region 1-Sumatera PT Pertamina Hulu Rokan menemuinya. Mereka mengajak petani berinovasi dengan sistem pertanian zero waste. Semua bagian dari jagung dimanfaatkan, mulai dari limbah batang jagung yang dijadikan kompos, limbah tongkol jagung untuk budidaya jamur, hingga budidaya toga dan pembuatan jamu olahan.
Semula para petani ragu. Namun Pertamina menunjukkan komitmennya untuk memberikan sarana dan prasarana yang dibutuhkan mereka. Enau Jaya mendapat suplai bibit jagung super hibrida yang resisten terhadap kekeringan dan memiliki produktivitas tinggi dengan potensi hasil 11,94 ton per hektare. Pertamina juga menyediakan kontrak jaminan pembelian hasil panen selama lima tahun.
Perilaku budi daya Saryono pun berubah. Jika sebelumnya, dia menanam sawit tanpa pengolahan tanah, kini tanah pun dibajak. Mereka tak lagi membakar bagian dari kelapa sawit yang tak terpakai karena tahu itu bisa dikelola menjadi pupuk kompos. “Kalau dibakar, sayang. karena bisa dibuat pupuk bagus,” katanya.
Saryono kemudian menemui Maryati untuk membentuk Kelompok Wanita Tani Subur Makmur pada 2022, dan mengolah limbah jagung. Mulanya Maryati agak enggan. Namun belakangan dia seperti menemukan hal baru yang bisa ditekuninya dan menghasilkan pendapatan bagi keluarga.
Selain Maryati, satu KWT lagi dibentuk dan dipimpin Yupika Diyanti bernama Jaya Sari. Kelompok ini semula hanya beranggotakan 13 orang. “Meyakinkan anggota itu sulit,” katanya.
Maryati membenarkan pernyataan itu. Ia juga kesulitan mencari anggota yang mau bergabung. “Awalnya tidak ada yang mau. Mereka bilang: ah mau ngapain tanam-tanam kayak begitu. Cuma untuk nyayur saja,” katanya.
Namun Maryati berjalan terus. Bersama temannya, Darilah, dia mendatangi setiap rumah untuk menyosialisasikan program Pertamina. “Mereka kami ajak dan kasih tahu, bagaimana kalau membuat KWT bersama. Kita menanam, ada sayuran,” katanya. Akhirnya KWT yang dipimpinnya berdiri pada 23 September 2021.
“Sekarang mereka sudah mengerti. dan bersemangat. Meski semua anggota berbeda-beda. Ada yang aktif dan tidak. Alhamdulillah sekarang anggota lebih aktif, karena sudah dikasih contoh,” kata Maryati.
Jumlah anggota yang sedikit bukan halangan untuk berkreasi. Yupika dan Maryati mengikuti dengan tekun pelatihan dari Pertamina. Tak mudah awalnya. Mereka pernah gagal membuat jamur. “Sulit sekali. Waktu itu gagal karena kesalahan teknis kami, sehingga tidak tumnbuh jamur. Setelah dievaluasi, sekarang sudah berhasil. Ketika gagal, kami mau mencoba lagi, tak mau menyerah, Pertamina juga mau meyakinkan kami untuk tak menyerah. Alhamdulilalh berhasil,” kata Yupika.
Kini KWT Jaya Sari sudah memanen jamur lima kali. “Panennya tidak setiap hari. Tiga minggu. Kalau tiga minggu itu dapat 50 kilogram sekali panen. Hasilnya kami jual dalam bentuk jamur olahan dan kami bagi ke rombongan ibu KWT,” kata Yupika.
Yupika gembira dengan perkembangan kelompoknya. Namun dia berharap kelak produk yang dihasilkan kelompok itu bisa dijual hingga keluar dari Sumatera. Saat ini produk mereka hanya dibeli oleh warga sekitar dan Pertamina. “Kelompok ini saya harapkan lebih berkembang, dengan produk lebih banyak. Pembinaan juga lebih banyak. Sekarang kami punya sembilan jenis produk. Tapi penjualan masih belum banyak,” kata Maryati.
Keberhasilan tiga kelompok Desa Air Enau ini rupanya didengar desa tetangga. “Pak Kades kami dampingi ke sana, Mereka ikut menanam jagung. Kami tunjukkan caranya, kami ajari di sana. Sebelumnya saya sosialisasikan juga, kami luruskan bahwa ini bermanfaat. Saya menunjukkan manfaatnya., karena sayang namanya manfaat kalau tidak ditunjukkan ya mubazir,” kata Saryono.
Pelatihan yang paling bermanfaat dan berkesan adalah pelatihan memadamkan api dari Pertamina. “Karena orang-orang sini belum pernah pakai alat (pemadam) seperti itu. Tahunya api digebukin doang agar padam,” kata Saryono.
Kelompok yang dipimpin Saryono juga sering menggelar pertemuan rutin. “Kalau kami kirim pesan WA, ya mereka langsung datang. Apalagi Pertamina datang memberikan perkembangannya untuk ke depannya,” kata Saryono. [wir/kun]






