Ringkasan Berita:
- Rombongan dari Indonesia, Malaysia, Laos, dan Thailand melakukan doa bersama serta tabur bunga di pusara Presiden RI ke-4, KH Abdurrahman Wahid, di Pesantren Tebuireng, Jombang, Selasa (19/5/2026).
- 57 biksu berjalan kaki dari Bali menuju Candi Borobudur, sebagai rangkaian memperingati Hari Trisuci Waisak, menempuh puluhan hari perjalanan spiritual.
- Doa bersama dan tabur bunga di makam Gus Dur serta makam keluarga pesantren menegaskan jasa tokoh pluralisme ini dan harmoni antarumat beragama di Indonesia.
Jombang (beritajatim.com) – Puluhan biksu dari berbagai negara Asia Tenggara menapakkan kaki di Tebuireng Jombang, pondok pesantren legendaris yang didirikan KH Hasyim Asyari pada 1899, Selasa (19/5/2026).
Mereka datang bukan untuk sekadar berkunjung, tetapi untuk menunaikan doa bersama dan tabur bunga di makam Presiden RI ke-4, KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, sosok yang dikenal sebagai pelopor pluralisme dan guru bangsa.
Sekitar pukul 10.00 WIB, rombongan yang tergabung dalam Indonesia Walk for Peace 2026 tiba di pesantren setelah menempuh perjalanan kaki dari Bali menuju Candi Borobudur, Magelang.
Kehadiran mereka disambut hangat oleh pengurus Tebuireng, sambil para biksu beristirahat sejenak di gazebo makam keluarga pesantren. Di sela-sela keheningan itu, lantunan tahlil peziarah terdengar harmonis, seakan doa dari berbagai iman bertemu dalam satu ruang spiritual.
Tak lama kemudian, suasana berubah khidmat. Satu per satu biksu melangkah mendekati pusara Gus Dur, duduk bersila, dan memanjatkan doa. Di antara mereka, hadir juga Riza Yusuf Hasyim, atau Gus Riza, cucu pendiri NU KH Hasyim Asyari, yang duduk di antara barisan para biksu. Doa-doa pun mengalir bersama, memecah sunyi dengan getaran harapan dan perdamaian.
Acara ditutup dengan tabur bunga. Secara bergantian, biksu mengambil keranjang berisi bunga, menaburkannya di atas pusara Gus Dur. Namun bukan hanya itu, seluruh makam di lokasi ini, termasuk makam KH Hasyim Asyari, KH Wahid Hasyim, KH Yusuf Hasyim, dan KH Salahuddin Wahid, turut diberi penghormatan dengan taburan bunga, menandai rasa hormat yang mendalam bagi para tokoh besar bangsa.
Bhante Tejapunnyo, ketua rombongan, menjelaskan bahwa perjalanan damai 57 biksu ini menempuh puluhan hari, dimulai dari Brahmavihara-Arama, Buleleng, Bali, pada 9 Mei 2026, dan akan berakhir di Candi Borobudur pada peringatan hari trisuci Waisak, 31 Mei 2026.

“Hari ini kita melakukan doa bersama di makam Gus Dur. Tidak ada kalimat terbaik selain doa,” kata Bhante Tejapunnyo, biksu asal Banyuwangi.
Baginya, Gus Dur selalu dikenang oleh umat Buddha karena jasa-jasanya dalam memperkuat pluralisme Indonesia. “Beliau adalah guru bangsa. Jasa-jasa itulah yang selalu kami ingat,” ujarnya dengan penuh rasa hormat.
Kehadiran para biksu dari Malaysia, Laos, Thailand, dan Indonesia ini menjadi simbol nyata bahwa perdamaian dan penghormatan antarumat beragama dapat diwujudkan melalui langkah-langkah kecil penuh makna—sebuah penghormatan yang melintasi batas negara dan keyakinan. [suf]






