Mojokerto (beritajatim.com) – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mojokerto melalui Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (Disbudporapar) terus menunjukkan komitmennya dalam pelestarian cagar budaya, khususnya peninggalan era Kerajaan Majapahit. Hal ini disampaikan oleh Kepala Disbudporapar Kabupaten Mojokerto, Norman Handhito.
“Karena kami di Kabupaten Mojokerto ini dalam hal cagar budaya, khususnya peninggalan era Kerajaan Majapahit, bukan hanya sebagai kebanggaan tapi juga sebagai identitas kami. Sekaligus sebagai zona ekonomi bagi rakyat kami,” ungkapnya, Jumat (16/5/2025).
Menurutnya, berbagai kegiatan ekskavasi dan pelestarian yang dilakukan oleh Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI Jawa Timur sebagai perwakilan pemerintah pusat melalui Kementerian Kebudayaan sangat membantu daerah dalam menjaga sekaligus memanfaatkan potensi warisan budaya.
“Jadi kami sangat-sangat bersyukur manakala BPK Wilayah XI dalam hal ini mewakili pemerintah pusat, Kementerian Kebudayaan melakukan banyak sekali kegiatan ekskavasi dan pelestarian cagar budaya yang ada di Kabupaten Mojokerto. Karena sekali lagi, itu adalah kebanggaan kami,” katanya.
Menurutnya, hal tersebut adalah sebuah potensi wisata, potensi ekonomi yang akan memajukan Kabupaten Mojokerto. Disbudporapar Kabupaten Mojokerto juga rutin menjalin kolaborasi dengan BPK Wilayah XI setiap tahun, baik dalam tahap ekskavasi maupun pasca-ekskavasi. Salah satu contohnya adalah di Situs Gemekan di Kecamatan Sooko.
“Dimana pemerintah daerah melakukan penyewaan lahan milik warga yang terdampak ekskavasi guna mendukung upaya pelestarian. Selain itu, ekskavasi di situs Bhre Kahuripan juga terus dilanjutkan secara bertahap. Kami juga melakukan ekskavasi bersama-sama untuk meneruskan ekskavasi di Bhre Kahuripan,” ujarnya.
Dan tahun 2025 ini, Disbudporapar Kabupaten Mojokerto juga menganggarkan untuk meneruskan ekskavasi di Bhre Kahuripan. Ia menegaskan, kerja sama ini merupakan bentuk nyata sinergi antara Pemkab Mojokerto dan BPK Wilayah XI Jawa Timur demi pelestarian sekaligus pengembangan sektor pariwisata berbasis budaya di daerah. [tin/but]






