Jember (beritajatim.com) – Kabupaten Jember, Jawa Timur, mencatatkan pertumbuhan ekonomi tertinggi di wilayah Sekarkijang (Eks Karesidenan Besuki dan Lumajang) pada 2022. Namun pertumbuhan ini dianggap bukan prestasi oleh DPRD Jember.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, ekonomi Kabupaten Jember tumbuh 4,53 persen pada 2022. Lebih baik daripada tahun sebelumnya yang mencatatkan angka pertumbuhan empat persen. Sementara ekonomi Banyuwangi tahun lalu tumbuh 4,43 persen, lebih baik dari tahun sebelumnya yang tumbuh 4,09 persen. Sementara itu pertumbuhan ekonomi Kabupaten Situbondo 4,39 persen dan Kabupaten Bondowoso 3,51 persen.
“Peningkatan ini menurut kami bukan merupakan prestasi melalui daya dukung keberhasilan program pemerintah daerah, karena LKPJ tidak menjelaskan variabel dan intervensi program yang mendukung peningkatan perrsentase pertumbuhan ekonomi tersebut,” kata Ardi Pujo Prabowo, juru bicara dari Gerindra, dalam sidang paripurna Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) Bupati Jember 2022, di gedung parlemen, Sabtu (15/4/2023) malam hingga Minggu (16/4/2023) dini hari.
“Peningkatan ini masih di bawah target proyeksi RPJMD (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah), karena tidak optimalnya perangkat daerah melaksanakan tugas dan tanggungjawabnya,” kata Ardi. RPJMD mematok target pertumbuhan ekonomi pada 2002 sebesar 4,9 persen. Pertumbuhan ekonomi Jember pada 2022 juga masih di bawah Jatim yang mencapai 4,63 persen.
Peningkatan Pertumbuhan ekonomi pada 2022 juga dinilai DPRD tidak memiliki kesesuaian dengan struktur ekonomi Kabupaten Jember. Hadi Supaat, juru bicara dari PDI Perjuangan mengatakan, peningkatan ekonomi ini prestasi semu.
“Ke depannya klaim peningkatan pertumbuhan ekonomi kabupaten Jember harus realistis, dijelaskan program apa saja yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi positif tersebut. Kami berharap ke depan target pertumbuhan pada angka normal kembali seperti sebelum Covid yaitu di atas lima persen,” kata Hadi.
DPRD Jember meminta pemerintah daerah berfokus pada arahan program yang mampu mendorong pertumbuhan, terutama pada sektor ekonomi yang dominan. Sektor ekonomi dominan itu adalah pertanian, kehutanan dan dan perikanan, industri pengolahan, perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan sepeda motor, konstruksi, informasi dan Komunikasi.
Selain itu, DPRD Jember menilai, besarnya pertumbuhan ekonomi tidak sebanding dengan penurunan persentase tingkat pengangguran terbuka. Persentase tingkat pengangguran terbuka Kabupaten Jember pada Agustus 2022 sebesar 4,06 persen. Ada 55.260 warga yang masih menganggur.
DPRD menilai, tidak sebandingnya pertumbuhan ekonomi dengan tingkat pengangguran ini akan menjadi ancaman bagi ketersediaan lapangan kerja ke depan dan menjadi titik rawan dalam pengurangan pengangguran. “Pencapaian angka ini masih rentan, jika pemerintah daerah belum melakukan upaya maksimal program terobosan dan program inovasi,” kata Ardi.
Program terobosan itu adalah penyiapan kompetensi pada calon tenaga kerja. “Kami menilai upaya terobosan dan program inovasi terkait hal ini belum nampaknya masih belum maksimal dijalankan oleh pemerintah daerah meskipun secara statistik angka pengangguran menurun,” kata Hadi. [wir]






