Surabaya (beritajatim.com) – Angin puting beliung umumnya terjadi di area skala lokal dan dalam waktu relatif singkat, namun munculnya hembusan angin kuat ini dapat menimbulkan kerugian yang tidaklah sedikit.
Seperti halnya kejadian di daerah Sidoarjo, Jawa Timur, pada Minggu 23 Oktober kemarin, yang menyebabkan puluhan pohon roboh dan rumah warga rusak serta sebuah hotel.
Lalu, apa sih yang menjadi penyebab terjadinya angin puting beliung Sidoarjo? Simak berikut penjelasannya.
Pengertian Angin Puting Beliung
Angin puting beliung merupakan salah satu bencana alam yang banyak memberikan dampak negatif bagi manusia. Angin yang memiliki bentuk seperti corong ini, memiliki kecepatan berputar secara kencang di permukaan bumi selama 3 sampai 5 menit.
Mengapa disebut sebagai fenomena alam yang memiliki skala lokal? Sebab angin puting beliung sering terjadi di banyak negara seperti di Jepang, Australia, Filipina, Cina, Indonesia, hingga Amerika.
[berita-terkait number=”5″ tag=”sidoarjo”]
Penyebab Angin Puting Beliung
Angin yang berpotensi terjadi pada waktu siang hari atau malam hari ini terjadi karena pertemuan antara udara panas dan udara dingin, sehingga keduanya akan saling bentrok dan membentuk awan cumulonimbus hingga menjadi puting beliung. Faktor suhu yang tinggi juga dapat menjadi penyebab terjadinya bencana ini.
Proses Terjadinya Angin Puting Beliung
Proses terjadinya angin puting beliung ini terjadi ketika musim pancaroba dan berkaitan dengan adanya awan cumulonimbus, yang terbagi atas fase tumbuh, fase dewasa, dan fase punah.
1. Fase Tumbuh
Pada fase ini, terdapat awan yang di dalamnya memiliki arus kuat yang naik ke atas. Ketika hujan belum turun, titik – titik air atau kristal es masih tertahan oleh adanya arus yang naik sebelum menuju ke puncak awan.
2. Fase Dewasa
Selanjutnya, untuk fase ini titik – titik air yang sudah tidak tertahan akan naik ke puncak awan. Ketika hujan turun, maka akan terjadi gaya gesek antara arus udara yang naik dengan yang turun.
Kondisi ini akan menimbulkan arus geser yang memutar lalu menjadi bentuk pusaran, dan semakin lama arus udara akan bergerak semakin cepat hingga akhirnya membentuk sebuah corong yang menyentuh permukaan bumi. Hal inilah yang disebut sebagai angin puting beliung.
Tetapi, puting beliung juga dapat muncul disertai hujan deras hingga membentuk pancaran air seperti kejadian angin puting beliung Sidoarjo, kemarin.
3. Fase Punah Awan Cumulonimbus
Pada fase ini, massa udara akan meluas pada seluruh awan, lalu berhenti dan angin puting beliung pun berakhir.
Hal ini karena tidak ada massa udara yang naik hingga kemudian massa udara turun secara meluas di seluruh awan.
Dampak Terjadinya Angin Puting Beliung
Dampak yang terlihat saat terjadi puting beliung adalah kerusakan bagi masyarakat, baik berupa material maupun adanya korban jiwa. (Frs/nap)






