Surabaya (beritajatim.com) – Cara didik orang tua sangat berpengaruh terhadap perilaku dan mental anak. Sayangnya tanpa disadari, beberapa cara didik orang tua justru menimbulkan perasaan Anxiety pada anak.
Para ahli menguraikan cara didik orang tua, yang terdiri dari perkataan dan perilaku yang membuat anak-anak mengidap anxiety.
Anxiety atau kecemasan bukan hanya masalah orang dewasa. Penelitian menunjukkan bahwa jutaan anak berjuang dengan gejala kecemasan. Sebanyak 20,5% remaja di seluruh dunia merasakan gejala Anxiety pada analisis baru-baru ini.
Gejala Anxiety pada Anak
Melansir Healthline, Dr. Khadijah Booth Watkins, direktur asosiasi Clay Center for Young Healthy Minds menerangkan, bahwa Anxiety sulit untuk ditentukan karena anak-anak dapat menunjukkan kecemasan dengan cara yang berbeda.
Beberapa anak mengalami gejala fisik seperti sakit perut, detak jantung berdebar kencang, dan sakit kepala. Kemudian yang lain menunjukkan respons emosional seperti tantrum atau clinginess. Namun, ada juga anak yang menarik diri dan berhenti berpartisipasi dalam aktivitas atau terlibat dengan teman sebaya.
Hal ini bisa disebabkan oleh banyak faktor seperti jenis kecemasan yang mereka alami, usia, atau kemampuan bahasa.
Meskipun terkadang orang dewasa tidak bermaksud menimbulkan kecemasan, beberapa perilaku dan perkataan dari orang tua dapat membuat anak mengalami Anxiety.
Berikut 5 Cara Didik Orang Tua Ini Menciptakan Anxiety Pada Anak Tanpa Disadari
1. Menghindari anak jika ada masalah atau pertengkaran
Anak yang Anxiety cenderung menghindari sebab pemicu perasaan tersebut. Yang mana membuat mereka tidak nyaman, dan seiring berlalunya waktu hal ini menjadi kebiasaan.
Untuk itu, orang tua jangan menghindari anak apabila terjadi pertengkaran atau masalah pribadi. Sebaliknya, orang tua harus fokus pada menumbuhkan ketahanan dan membiarkan anak-anak mereka menghadapi ketakutan. Dengan terus mendukung pilihan mereka.
2. Orang tua mengalami Anxiety dan menularkannya kepada anak
Anak-anak akan terbiasa dengan apa yang terjadi pada orang tua mereka. Mereka juga mendengarkan kata-kata dan memperhatikan bahasa tubuh orang tua.
Apabila orang tua sendiri bergumul dengan Anxiety, maka kemungkinan besar hal itu berefek kepada anak. Maka sebelum membicarakan tentang Anxiety anak, lebih baik untuk memastikan kesehatan mental orang tau terlebih dahulu.
3. Orang tua menghindari atau cenderung gengsi berbicara serius dengan anak
Membicarakan perasaan antara orang tua dan anak bisa jadi tidak nyaman, terutama saat emosi mudah muncul. Namun sangat penting bagi orang tua untuk mendorong percakapan terbuka dengan anak.
Berikan ruang bagi anak untuk merasa khawatir, cemas, atau gugup. Karena anak-anak mungkin tidak sepenuhnya menyadari apa yang mereka rasakan atau apa artinya.
4. Terlalu Berhati-hati
Seringkali orang tua memicu kecemasan pada anak-anak saat bertindak terlalu berhati-hati. Apabila orang tua terus-menerus memperingatkan anak untuk berhati-hati, seperti “hati-hati, kamu akan jatuh”. Hal ini dapat menciptakan keragu-raguan pada anak-anak, yang mengakibatkan kecemasan berlebihan apabila terus berulang.
Alih-alih memperingatkan, gantilah dengan fokus membantu anak memahami mengapa ada sesuatu yang berbahaya. Dan beri tahu alasan tindakan dalam mengatasi bahaya tersebut.
5. Memuji Hasil Bukan Usaha
Banyak anak-anak merasa cemas karena takut mengecewakan orang tua, apabila mereka tidak berhasil melakukan yang terbaik dalam segala hal.
Solusinya, orang tua harus memuji anak-anak dan memberi mereka penegasan mengenai area di mana mereka pandai melakukannya. Terutama, pujilah anak akan usahanya dan mengatakan bahwa mereka sudah cukup baik dan berusaha.
Itulah cara didik orang tua yang secara tidak sadar menimbulkan Anxiety pada anak. (kai/ian)






