Malang (beritajatim.com) – Beredar di media sosial tentang kematian Agus Gimbo yang tidak wajar. Agus Gimbo adalah salah satu seniman yang ada di Kota Malang. Dia meninggal dunia pada 25 April 2023 lalu.
Dalam poster digital yang beredar, singkat cerita, Agus Gimbo berada di Dewan Kesenian Malang pada Senin, 3 April 2023. Di sana ada pementasan teater. Ada sebuah diskusi dan terjadi perdebatan. Lalu dikabarkan Agus Gimbo dipukul oleh seseorang berinisial B pada Senin, 3 April 2023 hingga terkapar dan dibawa ke Rumah Sakit Saiful Anwar keesokan harinya.
Disebutkan bahwa Agus Gimbo sempat koma akibat dipukuli. Saat polisi datang, manajemen DKM menyebut Agus Gimbo terluka akibat terjatuh. Dalam poster itu, mereka menuding DKM membelokan fakta.
Ketua DKM Dimas Novib mengatakan bahwa informasi yang ada di dalam poster tidak sepenuhnya benar. Tetapi dia tidak bisa menjelaskan kronologis kejadian. Karena keluarga mendiang Agus Gimbo tidak menghendakinya.
“Ini kesepakatan dengan keluarga tidak bisa dibeberkan kronologinya. Tapi memang benar ada gelaran teater dari komunitas. Harusnya selesai jam 22.00 WIB tapi lanjut sampai malam,” kata Dimas Novib, Rabu, 28 Juni 2023.

Dimas menuturkan bahwa kasus ini sebenarnya sudah selesai secara kekeluargaan. Pihak DKM pun sudah mengeluarkan sikap untuk menghentikan seseorang berinisial B dari kepengurusan DKM.
“Pelaku seorang pengurus. Kami pasca kejadian sudah melakukan rapat untuk mengambil sikap untuk mengeluarkannya. Keluarga juga sudah menganggap selesai. Ini selesai di kekeluargaan karena ini masalah pribadi,” ujar Dimas.
Dimas menyebutkan bahwa kasus ini sebenarnya masalah pribadi. Tidak ada kaitannya dengan DKM atau kesenian di Malang.
“Ini masalah pribadi. Ini person to person,” imbuh Dimas.
BACA JUGA:
Giliran Seni Tiban Ditetapkan sebagai Kesenian Milik Kabupaten Kediri
Dimas yang berkomunikasi dengan keluarga mengklaim bahwa keluarga mendiang Agus Gimbo keberatan dengan poster digital yang tersebar. Sebab, poster itu disebar tanpa sepengetahuan keluarga mendiang.
“Itu tanpa ada ada seizin dari keluarga dan munculah poster itu. Keluarga menyayangkan karena ada kelompok yang tidak berkomunikasi dengan keluarga meminta izin keluarga tiba-tiba muncul,” ujar Dimas. [luc/but]






