Surabaya (beritajatim.com) – Tenun tradisional Jombang kini tak lagi terpaku pada dunia fesyen. Berkat sentuhan kreatif tim dosen Interior Design Petra Christian University (PCU) Surabaya, kain tenun dari Dusun Penggaron, Kabupaten Jombang, berhasil bertransformasi menjadi produk interior elegan berupa window blind (tirai jendela) berbahan tenun dan bambu.
Selama ini, tenun Penggaron dikenal luas sebagai bahan sarung atau kain busana. Namun, melalui inovasi desain dan pendekatan kolaboratif, tenun tersebut kini hadir dalam wujud baru yang lebih fungsional dan bernilai jual tinggi di pasar interior modern.
Produk window blind hasil inovasi ini mengombinasikan benang tenun tradisional dengan lidi bambu. Karakteristiknya lurus, kaku, dan semi-transparan—menjadikannya ideal sebagai tirai jendela dengan kesan alami, etnik, sekaligus kontemporer.
Salah satu anggota tim dosen, Lintu Tulistyantoro, menjelaskan bahwa produk ini bersifat custom made. “Calon pembeli dapat memesan sesuai selera desain dan ukuran. Namun, karena seluruh proses dikerjakan manual, waktu produksinya memang tidak bisa cepat,” ujarnya.
Pembuatan window blind tenun bambu membutuhkan ketelatenan tinggi. Proses dimulai dari persiapan lidi bambu sebagai bahan mentah yang disiapkan per 50 meter. Tahapan tersulit terletak pada penggambaran motif karena menuntut ketelitian dan presisi.
Dalam sehari, satu pengrajin rata-rata hanya mampu menyelesaikan empat hingga lima unit tirai pada tahap awal. Proses kemudian dilanjutkan ke tahap menenun, di mana setiap penenun dapat merangkai sekitar tujuh hingga sepuluh unit per hari. Angka ini menunjukkan bahwa kualitas dan detail desain menjadi fokus utama, bukan kuantitas semata.
Saat mendampingi POKMAS Tenun Wastra Sejahtera, tim dosen PCU menghadapi tantangan besar, terutama dalam menyesuaikan teknik tenun tradisional ke fungsi interior seperti tirai jendela.
Ketua tim peneliti, Sherly de Yong, menuturkan bahwa kejelian dan kesabaran penenun menjadi kunci keberhasilan. “Bambu yang digunakan harus halus namun tetap kaku agar mudah dimasukkan ke dalam struktur tenunan dan menghasilkan bentuk yang rapi,” jelasnya.
Melihat hasil akhir yang kuat secara visual dan fungsi, tim dosen PCU optimistis inovasi ini mampu menjadi penghubung antara warisan tradisi dan kebutuhan desain interior masa kini. Selain window blind, produk tenun bambu ini juga berpotensi dikembangkan menjadi wall hanging, taplak meja, hingga elemen dekoratif lainnya.
Diversifikasi produk ini diharapkan dapat memperluas pangsa pasar tenun Jombang, khususnya di segmen interior dan dekorasi rumah. “Produk ini menawarkan solusi dekorasi yang unik, alami, dan etnik untuk rumah-rumah di Indonesia,” tutup Sherly.
Inovasi ini merupakan hasil kolaborasi antara tim dosen Interior Design PCU Surabaya dengan POKMAS Tenun Wastra Sejahtera di Dusun Penggaron, Jombang. Program ini didanai melalui Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI tahun 2025.
Kelompok Tenun Wastra Sejahtera berdiri sejak 2019, berawal dari dampak pandemi. Mayoritas anggotanya adalah orang tua tunggal (single parent). Selama ini, potensi mereka belum tergarap maksimal karena produk masih terbatas pada fesyen dan pemasaran dilakukan secara konvensional.
Tim dosen yang terdiri dari Dr. Sherly de Yong, Dr. Ir. Lintu Tulistyantoro, dan Dr. Yusita Kusumarini, S.Sn., M.Ds., bersama mahasiswa menerapkan pendekatan Co-Design.
“Pendekatan ini melibatkan penenun, pengrajin, seniman, dan akademisi agar tercipta produk yang benar-benar baru. Dari yang sebelumnya hanya fesyen, kini berkembang menjadi produk interior dengan motif seni kontemporer yang segar dan variatif,” ungkap Sherly.
Kegiatan pendampingan telah berlangsung sejak September 2025, meliputi pemetaan masalah, pelatihan desain motif, digital marketing, manajemen pameran, hingga produksi prototipe tirai tenun bambu.
Puncaknya, pada 15 Desember 2025, dilakukan Peresmian Revitalisasi Pokmas Sentra Tenun Wastra Sejahtera pukul 09.00–11.00 WIB. Acara ini diresmikan langsung oleh Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Jombang, ditandai dengan serah terima alat tenun, alat serut bambu, dan sisir tenun.
Pengunjung juga diajak menyaksikan demo menggambar motif, proses produksi langsung, serta mengunjungi ruang pamer yang ditata oleh tim dosen PCU. Produk window blind tenun bambu ini dipasarkan dengan harga Rp150.000 untuk ukuran 45 x 90 cm². (fyi/kun)






