Mojokerto (beritajatim.com) – Tim Arkeologi Badan Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur kembali menemukan artefak di Situs Gemekan. Artefak berbahan perunggu tersebut ditemukan tersebut merupakan pegangan dengan ornamen mirip Dewa Ganesha.
Arkeolog Ismail Lutfi mengaku, baru mengikuti ekskavasi tahap kedua Situs Gemekan di hari ketiga. “Beruntung hari ini, ada temuan-temuan baru dan menarik sekali. Tadi pagi, kami mendapatkan temuan baru berupa artefak berbahan dasar perunggu,” ungkapnya, Kamis (3/3/2022).
Di tahap awal, lanjut Lutfi, ditemukan satu bagian dan setelah dibersihkan merupakan sebuah pegangan. Menurutnya temuan tersebut menarik karena pegangan atau gagang dalam bahasa Jawa tersebut tidak polos, namun memiliki ornamen mengarah mirip kepala Gajah dengan belalai.
“Mirip Ganesha, mungkin Ganesha. Setelah beberapa hari kemudian, teman-teman ekskavasi menemukan lagi artefak berupa lempeng perunggu juga penuh dengan platina atau penuh dengan karat untuk logam perunggu itu. Warnanya hijau sekali, kemudian dibersihkan. Ternyata itu bagian dari artefak yang ditemukan pertama,” katanya.
[berita-terkait number=”4″ tag=”situs-gemekan”]
Lutfi menjelaskan, jika awalnya ditemukan pegangan kemudian bagian atasnya. Tim arkeolog memprediksi bagian atas tersebut merupakan bagian melingkar berbentuk lempeng dan ada bagian bawahnya. Dalam bahasa Jawa Kuno, tegas Lutfi, yakni begidar pana atau cermin.
“Cermin berbahan perunggu. Ternyata memang dari permukaan begidar pana itu dipoles sedemikian halus dan mengkilap. Memang pada posisi seperti itu, kita bisa melihat wajah kita. Jadi cermin pada masa Jawa Kuno bukan menggunakan bahan mika dan kaca tapi menggunakan bahan logam,” jelasnya.
Logam tersebut dipoles sehingga tidak ada pori-pori dan memantulkan wajah kita. Menurutnya temuan tersebut dari satu sisi sangat menarik dan menjadi pekerjaan rumah (PR) Tim Arkeolog BPCB Jatim. Menurutnya dalam sejarah penemuan benda-benda dalam sebuah candi, baru kali ini menemukan begidar pana.
“Baru kali ini, kita menemukan benda-benda dalam sebuah candi berupa begidar pana. Ini membutuhkan kajian lagi, apakah ini sebuah anomali atau sebuah hal yang aneh. Kita tunggu hasil ekskavasi karena memang posisi temuan itu menentukan sekali untuk kita memberikan jawaban atas agama candi yang ada di Gemekan ini,” tegasnya.
Pihaknya tidak bisa menyimpulkan sebelum menemukan data-data arkeologi yang benar-benar mendukung. Lutfi menegaskan, Situs Gemekan dinilai cukup susah. Berbeda dengan temuan di Situs Klinterejo di Desa Klinterejo Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto yang memiliki data pendukung arkeologi yang lain. Seperti yoni dan arca.
“Itu lebih mudah kami memberikan kesimpulan. Untuk ini (Situs Gemekan, red), kita harus mencari terobosan, artefak apa yang menjadi acuhan kita untuk klaim tentang keagamaannya. Makanya dengan temuan di sumuran itu, harapannya bisa ungkap itu,” tuturnya.
Sementara itu, Ketua Tim Ekskavasi Situs Gemekan M Ichwan mengatakan, ekskavasi tahap kedua berlangsung mulai tanggal 1 sampi 6 Maret 2022. “Sasarannya kami akan menampakkan lebih jelas lagi struktur. Termasuk menampakkan pagar keliling di sisi barat seluas 12 x 12 x 12 meter, sebelah timur selatan dan utara, dari situs utama,” tambahnya. [tin/but]







