Ada suasana berbeda menjelang keberangkatan Madini Farouq berumrah ke Tanah Suci tahun ini. Orang nomor satu Dewan Pimpinan Cabang Partai Persatuan pembangunan Kabupaten Jember, sekaligus ketua koalisi lintas partai pendukung pemerintahan Bupati Hendy Siswanto ini menjadi tuan rumah temu kangen tiga partai, di kantor partainya, Minggu (31/3/2024) malam.
Selain Madini dan pengurus PPP, pertemuan itu dihadiri Ketua dan Sekretaris Dewan Pimpinan Daerah Partai Nasdem Jember Marsuki Abdul Ghofur dan Bambang Haryanto, Ketua Dewan Pengurus Daerah PKS Jember Sudiyanto dan Ketua Dewan Penasihat PKS Jember Anugerah Leksmana.
“Pertemuannya agak mendadak, sehingga tokoh-tokoh itu yang bisa hadir sebagai pertemuan awal dan perdana,” kata Madini yang saat ini tengah berada di Mekah, Rabu (3/4/2024).
Pertemuan ini, menurut Madini, dilatarbelakangi keinginan semua partai koalisi untuk berjumpa setelah lama tak berkumpul. “Kami memanfaatkan momentum Ramadan. Jadi sebelum saya berangkat umrah, kami bertemu memanfaatkan waktu untuk silaturahim dan membangun kebersamaan dan kesamaan,” katanya.
Selain tiga partai ini yang menjadi pengusung dan pendukung Hendy saat pemilihan kepala daerah Jember pada Desember 2020 lalu, sebenarnya masih ada Partai Demokrat dan Gerindra. Namun keduanya absen.
“Demokrat sudah tidak punya kursi (DPRD Jember 2024-2029). Gerindra sudah memunculkan calon bupati sendiri, Muhammad Fawait. Sementara kami masih belum punya calon, dan masih berkomitmen mengawal Haji Hendy sampai habis masa jabatannya,” kata Marsuki.
Kendati, menurut Marsuki, belum ada komunikasi yang dijalin Hendy dengan koalisi partai pendukung soal Pilkada 2024. “Kami tidak menunggu. Yang perlu sana. Tapi kami tidak menutup,” katanya.
Tiga partai itu berdiskusi dan mengevaluasi situasi politik selama ini di bawah kepemimpinan Hendy. “Kinerja Haji Hendy bagus. Kami pendukung, mana ada pendukung menjelek-jelekkan?” kata Marsuki ringan.
Namun semua sepakat perhatian Hendy kepada koalisi partai pengusung sangat minim dan tak sesuai komitmen awal. “Dulu ada istilah sinergi dan kolaborasi, yang ternyata tidak ada sinergi dan kolaborasi berkelanjutan,” kata Madini.
Pertemuan ini, menurut Madini, bisa menjadi awal kerja sama yang berpeluang ditingkatkan menjadi koalisi lanjutan. “Intinya kami sudah pernah bekerja sama pada Pilkada 2020. Maka kami sudah sama-sama punya chemistry, ingin melanjutkan kebersamaan untuk Pilkada 2024,” katanya.
Senada, Anugerah Leksmana menegaskan, pembentukan Koalisi Kebersamaan ini untuk membangun ikatan visi dan misi yang sama antarpartai untuk masa depan Jember yang lebih baik. “Kami membuka lebar bagi semua parpol di Jember untuk bergabung bersama kami,” katanya.
Tidak ada pembicaraan yang mengerucut pada nama calon bupati dan wakil bupati yang akan diusung pada November 2024 mendatang. Namun, menurut Marsuki Abdul Ghafur, sudah ada komitmen dari tiga partai untuk memunculkan kader-kader terbaik dalam pilkada. “Tapi tidak menutup kemungkinan dari partai lain, seandainya ada partai lain yang ikut bergabung dengan kami. Monggo,” katanya.
Madini bisa memahami keinginan partai untuk mengutamakan kader-kader internal masing-masing dalam pencalonan pilkada tahun ini. “Membesarkan partai tidak mudah dan berat. Masa setelah kami punya kursi mau diberikan kepada orang yang kemarin tidak berkeringat dan ikut membantu dalam proses membesarkan partai,” katanya
Madini mengingatkan, jabatan bupati adalah jabatan politik. “Maka tentu yang layak duduk di situ adalah politisi-politisi yang punya pengalaman dan layak memimpin Jember ke depan,” katanya.
Namun Marsuki tidak menutup pintu bagi calon bupati di luar kader partai. “Asalkan ada kesepahaman dengan tiga partai ini,” katanya.
Elektabilitas tentu menjadi kunci dukungan. “Nanti harus ada survei dulu. Ending-nya ada pada Dewan Pimpinan Pusat,” kata Marsuki.
Membangun koalisi pernah dilakukan partai-partai di Jember pada 2020. Saat itu, tidak hanya tiga partai, ada sebelas partai politik pemilik kursi parlemen yang sepakat membentuk Koalisi Rakyat. Madini menjadi motor sekaligus juru bicaranya.
Koalisi besar tersebut dibangun untuk mengeliminasi pencalonan petahana Faida. “Pimpinan partai sudah sepakat kami harus mengesampingkan ego partai dan mengedepankan kepentingan masyarakat. Jika memang untuk mewujudkan Jember yang lebih baik kami harus membentuk koalisi besar dalam rangka tidak terlalu banyak calon, maka itu yang akan kami lakukan,” kata Madini Farouq, dilansir Beritajatim.com, Senin (2/3/2020).
“Kalau nanti head to head (berhadapan dengan kandidat bupati petahana), semua partai sepakat satu calon. Siapanya (calon bupati yang didukung) nanti akan kami bicarakan,” kata Ketua Dewan Pengurus Daerah Partai Keadilan Sejahtera Jember Ahmad Rusdan saat itu.
Koalisi tersebut sedikit banyak berhasil mengeliminasi upaya Faida untuk mencalonkan diri kembali via jalur partai. Saat itu, Faida maju melalui jalur calon independen, dan dukungan sebelas partai tersebit terbelah untuk Hendy Siswanto (lima partai) dan Abdus Salam (enam partai).
Bagaimana dengan tahun ini? “Sosok cabup dan cawabup yang akan kami usung bersama tentu mengikuti dinamika politik, yang pasti sangat dinamis. Pasti akan kami bicarakan dalam koalisi dengan semangat kebersamaan ini,” kata Anugerah. [wir]






