Gresik (beritajatim.com)- Penyebaran penyakit mulut dan kuku (PMK) pada hewan ternak belum mereda. Dampak dari wahab tersebut juga menyebabkan sejumlah masalah di daerah. Bukan hanya penyakitnya, tapi juga berimbas pada ekonomi bagi peternak. Penyebaran PMK di Provinsi Jawa Timur sendiri masuk kategori zona merah, termasuk Kabupaten Gresik.
Untuk menyikapi agar penyakit mematikan pada hewan ternak tidak meluas, Bintara Pembina Desa (Babinsa) dari jajaran Kodim 0817 Gresik turut dikerahkan turun ke bawah (turba). Mereka mengecek ke peternak yang memiliki sapi, kambing serta kerbau.
[berita-terkait number=”4″ tag=”penyakit-pmk”]
Salah satu Babinsa yang melakukan turba adalah Serda Abu Amar. Bintara TNI AD itu menyambangi H.Imam seorang peternak asal Dusun Jetak, Desa Klangonan, Kecamatan Kebomas, Gresik. H.Imam memiliki dua ekor sapi, 150 ekor kambing. Sewaktu dipantau, kondisi hewannya sehat dan kandang yang digunakan dalam kondisi bersih.
“Saya mengimbau agar peternak selalu menjaga kebersihan kandang dan memberikan pakan ternak yang bergizi. Sehingga, bebas dari penyakit terutama penyakit mulut dan kuku,” ujar Abu Amar, Minggu (3/7/2022).
Bintara TNI AD itu tidak segan-segan selalu mengingatkan para peternak, apabila mendapati hewan ternaknya bergejala PMK. Semisal, tubuh hewan demam, stress dan nafsu makan menurun, serta berlebihan mengeluarkan air liur. “Tetap waspada, sebab PMK cepat penularannya dapat menimbulkan kematian mendadak pada hewan. Jadi kalau ada hewan bergejala peternak segera melaporkan, sehingga mendapat penanganan,” ujar Abu Amar.
Sementara H.Imam selaku peternak mengatakan, dirinya selalu melakukan perawatan setiap hari mulai dengan memberikan makanan yang sehat, menjaga kebersihan kandang serta memberikan vitamin. “Kami sudah mengetahui dari berbagai informasi. Bahwa Gresik sudah banyak hewan yang terpapar PMK. Jadi sudah diantisipasi,” pungkasnya. [dny/suf]






