Bondowoso (beritajatim.com) – DPRD Kabupaten Bondowoso mendesak pemerintah daerah untuk segera mengevaluasi skema penyewaan aset Balai Benih Ikan (BBI) guna membuka kran investasi di sektor perikanan air tawar. Tingginya nilai penaksiran harga (appraisal) aset dinilai menjadi benteng yang menyulitkan calon investor untuk bermitra dengan pemerintah daerah.
Anggota Komisi II DPRD Bondowoso, Andi Hermanto, menegaskan bahwa optimalisasi aset BBI merupakan solusi strategis dalam memajukan sektor perikanan di tengah keterbatasan kondisi geografis daerah.
“Bondowoso tidak memiliki wilayah laut maupun danau besar untuk perikanan tangkap. Satu-satunya jalan realistis adalah memaksimalkan dan mengelola aset fasilitas perikanan air tawar yang sudah dimiliki pemerintah secara profesional,” ujar Andi Hermanto, Kamis (29/10/2026).
Andi menyoroti dua fasilitas BBI milik Pemkab yang berada di Desa Sumber Wringin dan Kelurahan Tanggarang. Kondisi fisik kedua sarana tersebut saat ini dinilai memprihatinkan dan tidak terawat akibat keterbatasan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) untuk biaya pemeliharaan.
“Padahal di masa kejayaannya, BBI Sumber Wringin itu memiliki fasilitas pelatihan yang sangat lengkap. Sekarang terbengkalai karena dari segi anggaran daerah kita tidak mampu lagi menopang biaya perawatannya,” ungkap politisi tersebut.
Dorong Payung Hukum Penyesuaian Tarif Sewa
Guna menghidupkan kembali fungsi fasilitas tersebut, Andi menilai keterlibatan pihak ketiga melalui skema sewa atau kerja sama pemanfaatan (KSP) merupakan opsi terbaik agar tidak lagi membebani APBD.
Namun, kendala utama di lapangan adalah nilai appraisal penetapan sewa yang dipatok terlalu tinggi. Di sisi lain, dinas teknis terkait juga dilanda kekhawatiran tersandung masalah hukum jika menyewakan aset di bawah batas nilai penilaian awal.
“Kami mendorong ada mekanisme penyesuaian atau sistem lain. Perlu dibuat produk hukum yang memayungi dinas agar bisa bekerja sama dengan pihak ketiga secara aman dengan tarif yang sepadan. Investor luar sebenarnya banyak yang berminat,” tegasnya.
Selain budidaya air tawar, Andi melihat potensi transaksi dan penyerapan pasar ikan di Bondowoso tergolong sangat tinggi, termasuk untuk pasokan komoditas ikan laut dari kawasan pesisir tetangga.
“Potensi pasar ikan kita sangat besar. Jika BBI ini hidup kembali, selain menggairahkan ekonomi lokal, pengelolaan pasar dan rantai pasok ikan yang tertata juga akan memberikan sumbangan signifikan bagi Pendapatan Asli Daerah (PAD),” pungkasnya. [awi/but]






