Malang (beritajatim.com) – Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya (FTP UB) melakukan langkah strategis untuk memperkuat rekognisi global melalui akselerasi indeksasi jurnal ilmiah.
Dalam upaya mencapai target tersebut, FTP UB menggelar “Workshop Bengkel Jurnal Menuju Indeksasi Scopus” yang berlangsung selama dua hari, 1 hingga 2 April 2026, bertempat di Gedung A FTP UB, Malang.
Dekan FTP Universitas Brawijaya, Prof. Ir. Yusuf Hendrawan, STP., M.App.Life Sc., Ph.D., menegaskan bahwa langkah ini merupakan bagian dari upaya penyempurnaan fakultas setelah berhasil meraih level tertinggi Zona Integritas, yakni Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBBM).
Menurutnya, kepemilikan jurnal bereputasi internasional menjadi syarat mutlak agar FTP UB mampu bersaing secara global.
Dalam kegiatan ini, FTP UB menghadirkan dua pakar manajemen jurnal dari Universitas Hasanuddin (Unhas), yakni Prof. Dr. Muhammad Alif K. Sahide dan Prof. Dr. Siti Halimah Larekeng dari Fakultas Kehutanan Unhas. Keduanya dikenal sebagai ekspert dalam pengelolaan jurnal internasional.
“Alhamdulillah, kita didampingi oleh ahlinya. Nama kegiatannya ‘Bengkel Jurnal’, artinya kita memperbaiki yang rusak. Sudah diidentifikasi bagian mana yang kurang, dan hari ini agendanya adalah memperbaiki kekurangan tersebut agar sempurna sebelum kita submit,” ujar Prof. Yusuf Hendrawan saat ditemui di sela acara.
Prof. Yusuf mengungkapkan, saat ini terdapat empat jurnal di bawah naungan FTP yang sedang didorong untuk masuk ke indeksasi Scopus. Berdasarkan analisis para pakar, dua jurnal yakni Jurnal Teknologi Pertanian (JTP) dan Jurnal Keteknikan Pertanian Tropis dan Biosistem (JKPTB) menyandang status High Recommended. Sementara dua lainnya, yakni Jurnal Industri dan Jurnal Sumber Daya Alam dan Lingkungan (JSAL), berada pada level Promising atau Medium High.

Meski optimis, Prof. Yusuf tidak menampik adanya tantangan besar dalam proses indeksasi ini. Ia menyoroti tiga poin utama yang menjadi fokus perbaikan terkait perlunya peningkatan standar riset yang dipublikasikan agar memenuhi ekspektasi global.
Kedua, syarat editorial board yang memerlukan H-Index di atas 20. Ketiga, kewajiban memiliki dewan editor yang tersebar minimal dari lima negara berbeda serta spesifikasi ruang lingkup (scope) jurnal yang lebih fokus dan tidak terlalu umum.
“Beberapa kekurangan itulah yang hari ini kita pensioneringkan atau kita tuntaskan perbaikannya. Targetnya, besok keempat jurnal tersebut sudah siap untuk kita submit ke Scopus,” imbuhnya.
Inovasi Pangan dan Kontribusi untuk Indonesia
Selain fokus pada publikasi, FTP UB terus berkomitmen menjawab tantangan pangan global yang dinamis. Prof. Yusuf menjelaskan bahwa fakultas aktif membangkitkan inovator untuk mendukung ketahanan pangan nasional melalui kolaborasi riset internasional dan pengabdian masyarakat.
Salah satu langkah konkret yang sedang berjalan adalah program pemberdayaan di 50 kelurahan dengan target melahirkan 50 inovasi di bidang pangan, lingkungan, dan agroindustri.
Program ini merupakan implementasi mata kuliah Capstone Design, di mana mahasiswa terjun langsung ke masyarakat untuk merancang dan mendatangkan solusi teknologi tepat guna.
“Kami mendorong peneliti untuk berkolaborasi dengan mitra luar negeri guna memperkaya diversitas karya ilmiah. Dengan meningkatnya kualitas riset di dalam institusi, kontribusi kita terhadap kedaulatan pangan Indonesia juga akan semakin nyata,” pungkas Prof. Yusuf. (dan/ted)






