Malang (beritajatim.com) – Diberangkatkan Partai Golkar untuk bertarung di daerah pemilihan (Dapil) VI Jatim (Kabupaten dan Kota Blitar, Kabupaten dan Kota Kediri, serta Kabupaten Tulungagung) di Pileg 2024 untuk kursi DPR RI, menjadi tantangan tersendiri bagi Dr Ir Heru Tjahjono, mantan Sekretaris Daerah Provinsi (Sekdaprov) Jatim dan Bupati Tulungagung. Sebab, Dapil VI termasuk lapangan pertarungan dengan tingkat kontestasi politik yang ketat.
Maklum, di Dapil VI telah bercokol sejumlah nama lama yang telah lebih dari sekali duduk di kursi DPR RI. Sejumlah politikus dan tokoh nasional berangkat dari Dapil VI, seperti Arteria Dahlan (PDIP) yang dikenal populer dan kritis dalam mengemban perannya sebagai anggota DPR RI, Rizki Sadiq (Ketua PAN Jatim), KH Kafabihi Mahrus (PKB), tokoh Islam Tradisional (NU) yang memiliki relasi kenasaban, historis, dan kultural yang kuat dengan Pondok Lirboyo Kediri, Sarmudji (Ketua Partai Golkar Jatim) yang dikenal sebagai aktivis HMI saat kuliah di Universitas Jember (Unej) dan kini ketua organisasi alumni Unej Jatim, dan banyak tokoh politik lainnya.
“Saya jalani dengan perasaan optimistis dan kerja all out penugasan dari Partai Golkar di Dapil VI Jatim pada Pileg 2024 ini. Sejumlah jejaring saya di dapil ini mesti saya konsolidasi dan ajak komunikasi kembali,” kata Heru kepada beritajatim di Malang, Sabtu (2/9/2023) yang ditulis pada Rabu (6/9/2023).
“Nasib orang sudah digariskan Allah SWT. Yang penting ikhtiar maksimal, berdoa, tawakkal, dan memberikan manfaat kepada orang lain sesuai dengan kemampuan kita. Kalau nggak bisa membantu orang lain, yang penting jangan mengganggu dan merepotkan,” kata suami dari Dra. Gardjati mengingatkan.
BACA JUGA:
Bertarung di Kawasan Pusatnya Kaum Nasionalis
Total jumlah daftar pemilih tetap (DPT) di lima kabupaten/kota di Dapil VI Jatim lebih dari 3 juta pemilih. Rinciannya, Kota Blitar dengan jumlah DPT sebanyak 119.087 pemilih, Kabupaten Blitar dengan jumlah DPT sebanyak 956.873 pemilih, Kabupaten Kediri dengan 1.262.944 pemilih, Kota Kediri dengan 232.539 pemilih, dan Kabupaten Tulungagung dengan 858.807 pemilih. Sedang jumlah kursi yang diperebutkan sebanyak 8 kursi.
Dengan demikian, rata-rata ‘harga’ per kursi DPR RI sekitar 300 ribu suara dengan asumsi 100 persen pemilih memberikan hak suaranya pada Pileg di bulan Februari 2024 mendatang. “Di Pilkada Tulungagung tahun 2008 lalu, saya memperoleh dukungan lebih dari 83 persen. Insya Allah masih ada yang ingat dan nyantol di Pileg 2024 nanti. Yang penting ikhtiar maksimal dan berdoa,” tegas Heru.
Secara administratif, dari 858 ribu lebih jumlah DPT di Kabupaten Tulungagung, mereka tersebar di 19 kecamatan dan 271 desa atau kelurahan. Ketika memangku jabatan sebagai Bupati Tulungagung periode 2003-2008 dan 2008-2013, Heru mengaku telah roadshow ke semua desa dan kelurahan di Tulungagung.
“Waktu itu keliling desa dengan naik sepeda MTB. Macam-macam respon warga di akar rumput ketika saya temui. Ada yang minta ditunggui di Puskesmas ketika ada salah satu keluarganya dalam proses persalinan minta diberi nama. Banyak pengalaman menarik dan humanis lainnya ketika turun ke bawah,” ungkap Heru.
Pola komunikasi menyapa langsung warga di akar rumput seperti di Kabupaten Tulungagung dan kabupaten/kota lainnya di Dapil VI Jatim terus dilakukan Heru secara istiqomah menghadapi Pileg 2024. Hal itu efektif untuk menyentuh dan merebut hati rakyat. “Selain pendekatan dengan kalangan komunitas di Dapil VI,” katanya.
Secara antropologi politik, kabupaten/kota yang masuk Dapil VI Jatim tergolong kawasan Mataraman. Tlatah kebudayaan Mataraman tergolong empat (4) besar kawasan budaya di Jatim, selain tlatah kebudayaan Arek, Madura Pulau, dan Pandalungan. Sedang tlatah yang kecil terdiri atas Jawa Panoragan, Osing, Tengger, Madura Bawean, Madura Kangean, dan Samin (Sedulur Sikep).
Tlatah kebudayaan Jawa Mataraman berada di sebelah barat Jatim. Wilayahnya paling luas, membentang dari perbatasan Provinsi Jawa Tengah hingga Kabupaten Kediri. Kawasan Mataraman ini mendapat pengaruh kuat dari budaya Kerajaan Mataram, baik pada masa Hindu-Buddha maupun era Kesultanan Mataram Islam yang berpusat di Yogyakarta dan Surakarta.
BACA JUGA:
ARCI: Nama Heru Tjahjono Makin Berkibar di Bursa Pilgub Jatim
Budayawan Dwi Cahyono membagi tlatah kebudayaan Mataraman menjadi tiga: Mataraman Kulon (Barat), Mataraman Wetan (Timur), dan Mataraman Pesisir. Pembagian ini didasarkan pada jejak sejarah dan budaya lokal yang berkembang di sana. Bahasa menjadi ciri yang paling mudah untuk membedakan ketiganya.
”Dari segi kedekatan budayanya dengan Jawa Tengah, Mataram Kulon lebih kuat. Bahasa sehari-hari yang digunakan lebih halus dibandingkan Mataram Wetan. Wilayahnya merupakan bekas Karesidenan Madiun,” ulas pengajar Universitas Negeri Malang ini seperti ditulis Kompas.com (21/07/2008).
“Dapil VI Jatim pusatnya komunitas Nasionalis. Di sini pengaruh dan posisi partai-partai Nasionalis kuat dan menyejarah,” kata Heru. Pandangan Heru itu selaras dengan realitas historis yang ada. Di Kota Blitar misalnya, terdapat makam Bung Karno dan tempat tinggal orang tua Sang Proklamator. Pasca-reformasi 1998, Kota Blitar selalu dipimpin tokoh dan politikus dari PDIP, karena partai ini memenangkan kontestasi politik Pilkada Kota Blitar.
Fenomena serupa juga tergambar di Kabupaten Blitar, di mana dominasi PDIP tetap kuat di daerah ini terkecuali di Pilkada 2020, di mana calon PKB dan PAN memenangkan pilkada vis a vis calon yang diusung PDIP. Kabupaten Tulungagung selalu dipimpin Bupati yang diusung dan didukung PDIP, Kabupaten Kediri juga demikian, dan Kota Kediri dalam 10 tahun terakhir dipimpin Wali Kota dari PAN.
Menurut Denys Lombard (1996), mengutip Kompas.com ((21/07/2008), pengaruh budaya luar yang ikut memengaruhi Jawa adalah India, Islam, China, lalu disusul Eropa yang merupakan unsur budaya modern. Tradisi politik Ciri sosial dan budaya juga berpengaruh terhadap tradisi politiknya. Pengaplingan politik berlaku pula di sini. Masyarakat di tlatah Mataraman dari sejak 1955 hingga 2004 selalu loyal kepada partai-partai berpaham Nasionalis.
“Mereka (orang Mataraman) tidak suka yang mencolok-colok, misalnya Islam yang terlalu Islam itu tidak suka karena dianggap tidak Nasionalis. Jadi, partai-partai yang berlabel Nasionalis akan laku di sini,” ujar Ayu Sutarto, cendikiawan dan budayawan dari Universitas Jember.
“Saya berusaha memahami karakter dan kultur warga di kawasan Mataraman tersebut. Pengalaman ketika menjabat Bupati Tulungagung faktor-faktor itu saya pahami dan jalankan dengan baik. Yang paling penting, sebagai pemimpin, maka kita harus mengerti mereka (rakyat), bukan rakyat yang harus mengerti kita (sang pemimpin),” jelas Heru.
Kendati mengemban amanah rakyat dengan posisi politik tinggi, yakni sebagai kepala daerah (Bupati), Heru mengutarakan bahwa sikap dan perilaku sederhana, merakyat, rendah hati, dan selalu menyandarkan harapan kepada Ilahi Robbi (Allah SWT) adalah lelaku yang dia jalani secara istiqomah dan terus-menerus. “Bahasa sederhananya kita mesti tirakat, harus ditirakati. Puasa Senin-Kamis ajeg dilakoni. Saat jadi bupati, tidur saya beralas tikar bukan di kasur,” tukasnya sambil tersenyum.
Proses Pileg 2024 terus bergerak dinamis. Hari dan jam pemungutan suara makin mendekat. Semua caleg bekerja keras. Para caleg makin intensif turun ke bawah. Menyapa, menyentuh, mempersuasi, dan merebut hati rakyat. Langkah dan proses politik serupa dijalani Heru. Dalam seminggu, hari-hari yang dijalaninya lebih banyak dihabiskan di massa akar rumput di lima kabupaten/kota di Dapil VI. “Ya ketemu dan silaturahmi dengan berbagai komunitas sosial di Dapil VI Jatim,” ujarnya.
Semua komunitas sosial tanpa memandang latar agama, etnis, kesukuan, dan golongan disapa dan didekati Heru secara humanis. Jejaring sosial dan kultur yang pernah dia bina saat menjabat sebagai orang pertama di Kabupaten Tulungagung menyambut antusias proses pencalegan Heru via Partai Golkar di Pileg 2024. “Syukur alhamdulillah, banyak jejaring sosial yang saya kenal siap membantu,” katanya.
Kombinasi pengalaman empiris di ranah birokrasi dan politik pemerintahan telah dijalani Heru secara intens dan paripurna hingga pensiun pada awal tahun 2022 lalu. Lapangan politik praktis yang keras bukan palagan baru bagi mantan Sekdaprov Jatim kelahiran Kota Yogyakarta ini. Dia menyambut Pileg 2024 dengan modal sosial dan politik yang cukup. Modal yang telah dia pupuk, rengkuh dan jalani lebih dari 30 tahun. “Sekali lagi yang penting ikhtiar semaksimal mungkin untuk mencapai hasil terbaik. Setelah itu berdoa dan tawakkal. Itu prinsip saya,” tegas Heru Tjahjono. [air/habis]






