Jember (beritajatim.com) – Komunitas Tanoker Ledokombo merawat permainan tradisional egrang selama 14 tahun di Kabupaten Jember, Jawa Timur. Permainan egrang bukan hanya untuk berjalan dan berlari, tapi menjadi gerakan-gerakan artistik yang harmonis.
Tanoker berdiri pada 10 Desember 2009 di Kecamatan Ledokombo. Cicik Farha, pendiri Tanoker, menyebut permainan egrang menjadi sarana membangun persahabatan, memelihara kesehatan, menajamkan kesadaran, menyalurkan bakat seni, serta mengembangkan hobi. “Egrang bukan hanya sekadar sebuah permainan, melainkan juga pendukung tumbuh kembang yang baik dan peningkat peran konstruktif anak-anak dalam perubahan sosial di wilayah Kecamatan Ledokombo,” katanya, dalam siaran pers yang dilansir Sabtu (10/6/2023).
Tanoker berhasil menjadikan permainan egrang sarana untuk mendongkrak ekonomi kreatif perdesaan, yang mempunyai daya tarik nasional dan internasional. Festival egrang sudah digelar sepuluh kali yang dihadiri berbagai kalangan lokal, nasional hingga internasional.
Menurut Cicik, egrang yang berkembang di komunitas Tanoker Ledokombo telah menjadi prototipe, ikon budaya permainan tradisi egrang. “Permainan tradisi ini menjadi ‘permainan yang bukan main-main’,” katanya.
Wisata egrang memicu perubahan sosial ekonomi dan politik berkearifan lokal di Ledokombo. Anak-anak di Komunitas Tanoker menjadi penggerak perubahan sosial. Berkat keaktifan mereka memainkan permainan tradisi egrang, ikon destinasi wisata edukasi di wilayah Kecamatan Ledokombo pun terbangun
Besarnya kekuatan transformatif egrang ini yang kemudian menjadi pembahasan dalam workshop bertajuk ‘Menemukenali Strategi Pelestarian Permainan Tradisi Egrang di Indonesia dalam Perspektif Lokal’, di Hotel Dafam, Kabupaten Jember, Sabtu (10/6/2023).
Workshop ini diselenggarakan atas kerjasama Komunitas Tanoker Ledokombo, Dinas Pendidikan Kabupaten Jember, dan Konsulat Jenderal Australia di Surabaya. Workshop diikuti 110 peserta yang meliputi kepala-kepala SD dan SMP se-Jember, pengawas sekolah, dan pelaku pendidikan.
Cicik mengakui, tidak mudah untuk memunculkan kembali egrang menjadi permainan tradisi pilihan di kalangan anak-anak di perdesaan dan perkotaan. “Membutuhkan kerja sama yang melibatkan banyak pihak. Baik dari kalangan tokoh masyarakat maupun lembaga pendidikan dan pemerintah di berbagai tingkat, sampai dukungan media,” katanya. Ada harapan workshop ini mengarah pada tersedianya arena untuk pembelajaran bersama dan berbagi kepedulian pada kelestarian permainan tradisi egrang di Jember. [wir]






