RINGKASAN BERITA:
- Tanda utama haji mabrur adalah munculnya komitmen kuat untuk meninggalkan keburukan secara konsisten (dawamul ihsan).
- Esensi kata mabrur berakar dari al-birr yang berarti memiliki moralitas dan husnul khuluk (akhlak yang baik).
- Ukuran kesuksesan ibadah haji yang bersifat personal akan tercermin langsung dalam aktivitas dan relasi sosial di masyarakat.
Makkah (beritajatim.com) – Anggota Musyrif Diny, Prof Asrorun Ni’am Sholeh, memaparkan secara komprehensif mengenai hakikat dan indikator nyata dari capaian haji mabrur bagi umat Islam yang menunaikan ibadah di Tanah Suci. Kemabruran sebuah ibadah haji ditegaskan tidak hanya berhenti pada pemenuhan ritual rukun dan wajib secara personal, melainkan wajib menjelma dalam transformasi sosial.
Secara teologis, haji mabrur merupakan bentuk ibadah tertinggi yang garansi balasannya langsung dari Allah SWT berupa surga. Kendati ganjaran tersebut berada pada ranah spiritual dan bersifat kualitatif, dampaknya di dunia nyata tetap dapat diukur melalui penanda perilaku sehari-hari.
“Haji yang mabrur itu enggak ada balasan kecuali surga. Memang itu bersifat kualitatif, tetapi bisa diukur dengan penanda-penandanya,” terang Prof Ni’am kepada tim Media Center Haji (MCH) di Makkah, Minggu (24/5/2026).
Prof Ni’am menerangkan, alat ukur paling objektif untuk melihat kemabruran haji seseorang adalah perubahan sikap pasca-kembali dari Tanah Suci. Indikator perubahan ini justru jauh lebih mudah dideteksi dan dinilai oleh lingkungan sekitar, seperti keluarga, tetangga, hingga rekan kerja dalam kehidupan bermasyarakat.
“Yang lihat siapa? Ya yang lihat orang lain seiring dengan perubahan pra dengan pascanya,” cetusnya.
Wartawan beritajatim.com, Muhammad Isnan yang tergabung dalam Media Center Haji (MCH) Kemenhaj RI melaporkan dari Arab Saudi, di tengah konsentrasi jemaah yang kini memadati Makkah jelang Armuzna, pembekalan mengenai dimensi spiritual haji mabrur gencar disosialisasikan. Hal ini dimaksudkan agar jemaah tidak sekadar mengejar aspek formalitas ibadah, tetapi menyiapkan mental untuk perubahan jangka panjang.
Sebagai contoh konkret di lapangan, Prof Ni’am menunjuk aspek kedisiplinan beribadah. Seseorang yang sebelum berangkat ke Arab Saudi dikenal malas atau tidak tertib dalam menunaikan salat, kemudian berubah menjadi figur yang rajin dan mampu menjaga ritme ibadah tersebut secara konsisten, merupakan sinyal kuat adanya tanda kemabruran.
“Kalau biasanya malas kemudian setelah haji menjadi rajin, dan itu bersifat konstan serta kontinu, tanda-tanda kemabruran ada,” paparnya.
Secara garis besar, terdapat dua pilar utama yang menyusun makna mabrur. Pilar pertama adalah lahirnya komitmen batiniah yang kuat untuk memutus mata rantai kebiasaan buruk di masa lalu dan menggantinya dengan rentetan aktivitas kebajikan secara berkelanjutan.
“Setidaknya ada dua aspek ya makna mabrur itu. Yang pertama adalah komitmen untuk meninggalkan keburukan. Komitmen untuk meninggalkan apa yang biasa dia lakukan padahal itu buruk, kemudian pascahaji dia melakukan kebaikan-kebaikan,” urainya.
Sementara pilar kedua adalah dawamul ihsan, yakni konsistensi untuk terus memproduksi kebaikan bagi lingkungan sekitar. Prof Ni’am mengupas bahwa secara etimologi, kata mabrur bersumber dari akar kata al-birr yang berarti kebajikan mutlak.
“Kemudian yang kedua, dawamul ihsan. Jadi, ada al-ihsan ya. Eh komitmen untuk berbuat baik. Jadi, eh dia apa? Apa beda al mabrur dari kata al-birr. Al-birru husnul khuluk. Eh al-birr yang dari akar kata tadi mabrur, itu esensi yang utama adalah husnul khuluk. Eh moralitas yang baik,” tuturnya secara detail.
Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Fatwa ini mengingatkan jemaah bahwa ego kesalehan individu harus dilebur menjadi kesalehan sosial. Hubungan vertikal dengan sang Pencipta (hablum minallah) harus seimbang dengan hubungan horizontal antarmanusia (hablum minannas).
“Haji itu hal yang bersifat personal dan spiritual, tetapi dia bisa menjelma ditandai dengan apa kemabruran dan keterterimaan itu dengan aktivitas kepribadian dia di dalam relasi sosial,” cetus Prof Ni’am.
Ia menilai, struktur hukum ibadah dalam Islam sengaja didesain sedemikian rupa agar selalu memancarkan dampak sosial yang positif, mulai dari ibadah salat, zakat, puasa, hingga ibadah haji. Seluruhnya menuntut ketepatan syarat sah yang baku, namun raport kelulusannya dinilai dari kontribusi sosial individu tersebut.
“Rata-rata ibadah yang didesain untuk kita, sekalipun itu bersifat personal, seperti salat, puasa, zakat, bahkan haji, itu selalu pelaksanaannya bersifat personal, dia harus mengikuti ketentuan-ketentuan yang baku, tetapi ukuran kesuksesannya adalah jelmaan aktivitas sosial,” ulasnya.
Prof Niam mengomparasikan esensi ini dengan ibadah puasa Ramadan, di mana puasa dinilai sukses jika mampu mengerek grafik kesetiakawanan sosial dan semangat berbagi terhadap sesama. Pola adaptasi nilai yang sama juga berlaku penuh pada ibadah haji.
“Puasa bisa berhasil ketika dia mampu mentransformasi spirit berbagi, kemudian kesetiakawanan sosial di dalam kehidupan keseharian. Nah, haji juga demikian, akan kelihatan mabrur pada tingkah polah kesehariannya,” imbuhnya.
Kendati demikian, ia mengingatkan jemaah dan keluarga di tanah air bahwa proses metamorfosis menjadi pribadi yang lebih baik pasca-berhaji membutuhkan waktu, ketekunan, dan proses yang panjang. Perubahan watak manusia tidak dapat terjadi secara instan seketika bus jemaah mendarat di bandara debarkasi.
“Dan itu tentu eh akan jangka panjang, enggak bisa instan perubahan seseorang itu,” tutupnya. [ian/MCH]






