Madiun (beritajatim.com) – Peristiwa tanah retak di Desa Sumberbendo RT 17 RW 03, Kecamatan Saradan, Kabupaten Madiun, Jumat (27/2/2026) pukul 01.00 WIB, dipastikan terjadi di bahu jalan dan bukan longsor besar. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Madiun menyebut kondisi tersebut dipicu tanah yang jenuh air setelah hujan beberapa hari terakhir.
Plt Kalaksa Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Madiun, Boby Saktia Putra Lubis, mengatakan pihaknya menerima laporan dari Kepala Desa Sumberbendo pada Jumat pagi dan langsung menurunkan tim bersama unsur terkait untuk melakukan pengecekan lapangan.
“Pagi tadi saya dihubungi Pak Kades Sumberbendo, kemudian langsung saya tugaskan tim BPBD turun ke lokasi. Dari PUPR, khususnya teman-teman Bina Marga, juga sudah melakukan pengecekan,” ujar Boby.
Dari hasil assessment awal, retakan terjadi pada bagian bahu jalan. Di titik tersebut terdapat perbedaan ketinggian antara badan jalan dan permukiman warga di sisi bawah, sehingga sebelumnya telah dibangun talut sebagai penahan.
“Yang terjadi itu bagian dari bahu jalan. Karena ada beda tinggi antara jalan dan permukiman, maka dibuat talut. Kondisi talut yang kita lihat memang sudah mulai retak,” jelasnya.
Menurut Boby, hujan dengan intensitas ringan hingga sedang yang turun terus-menerus dalam dua hari terakhir membuat tanah menjadi lembek dan mengalami penurunan.
“Ini kita anggap sebagai penurunan tanah akibat tanah jenuh air. Memang dua hari terakhir ini hujan tidak deras tetapi intens, sehingga tanah menjadi lembek dan mengalami penurunan,” katanya.
Berdasarkan laporan kaji cepat, dua rumah terdampak dalam peristiwa ini. Rumah milik Sarmo mengalami longsoran pada tembok samping sepanjang kurang lebih 80 meter. Sementara rumah Sugeng mengalami gerusan di bagian samping sepanjang sekitar 12 meter.
BPBD bersama perangkat desa, Bhabinkamtibmas, dan Babinsa telah melakukan assessment serta koordinasi lanjutan. Untuk penanganan sementara, BPBD menginstruksikan pemasangan terpal pada bagian yang retak guna mengurangi paparan air hujan dan beban tanah yang jenuh.
“Sementara kita tutup dengan terpal karena prakiraan cuaca hari ini masih ada hujan. Ini untuk mengurangi beban air ke tanah,” ungkap Boby.
Selanjutnya, tim dari Dinas PUPR direncanakan melakukan penanganan teknis pada talut, termasuk kemungkinan pengurangan beban tanah di sekitar lokasi agar kondisi lebih stabil dan akses warga tetap aman. [rbr/beq]






