Ponorogo (beritajatim.com) – Sejumlah pedagang harus gigit jari, ketika sampai di pasar hewan di Kecamatan Jetis, ternyata pasarnya ditutup. Tidak sedikit di antara mereka yang sudah menempuh perjalanan jauh dan membawa sapi dagangan, harus kecewa karena pasar tutup hingga terpaksa kembali pulang tanpa hasil.
Seperti yang dialami Suyadi, seorang pedagang sapi asal Kecamatan Siman, Ponorogo. Ia mengaku kaget saat tiba di pasar dan menemukan bahwa aktivitas jual beli hewan ternak dihentikan sementara. Ia mengaku tidak tahu, kalau pasar hewan di Kecamatan Jetis ditutup sementara karena adanya wabah PMK di Bumi Reog. “Saya sudah bawa sapi dari rumah, ternyata pas sampai sini tutup. Ya terpaksa pulang lagi,” ungkap Suyadi, Jumat (10/01/2025).
Ia pun hanya bisa pasrah dengan situasi ini, sembari berharap wabah PMK yang menjadi alasan penutupan pasar bisa segera mereda. Sehingga aktivitas pasar hewan bisa bergeliat lagi seperti tidak terjadi wabah PMK. “Kalau seperti ini ya repot. Harapannya virus PMK cepat selesai biar pasar buka lagi,” katanya.
Selain pedagang sapi, kekecewaan karena pasar hewan tutup juga dialami oleh Toyati pemilik warung yang berada di dalam pasar. Dengan penutupan ini, otomatis warungnya juga ikut tutup. Hal itu dikarenakan, pengunjung pasar yang tidak ada. “Kalau dibilang kecewa ya kecewa, warung harus tutup juga, pengunjung sepi,” katanya.
Untuk diketahui, penutupan sementara pasar hewan ini, berlangsung selama 14 hari. Yakni berlangsung sejak 8 Januari hingga 21 Januari 2025. Kebijakan penutupan sementara pasar hewan ini, merupakan upaya pemerintah untuk menekan penyebaran wabah PMK yang belakangan ini semakin meluas. Berdasarkan data Dispertahankan Ponorogo, hingga kini tercatat lebih dari 340 sapi di 16 kecamatan di Bumi Reog yang terjangkit PMK. (end/kun)






