Surabaya (beritajatim.com) – Di tengah dunia modern yang identik dengan prinsip You Only Live Once (YOLO), sebuah tren baru, You Only Need One (YONO), mulai menarik perhatian masyarakat.
Jika YOLO sering kali memotivasi orang untuk menjalani hidup tanpa batas dan menikmati setiap momen, YONO justru mengajak untuk hidup lebih sederhana dengan fokus pada kebutuhan esensial.
Tren YONO mendorong individu untuk memanfaatkan satu barang atau solusi yang benar-benar cukup, tanpa harus mengejar keinginan berlebih. Pendekatan ini tidak hanya mengubah cara seseorang memandang konsumsi, tetapi juga membuka peluang untuk hidup lebih bermakna.
Pengamat Psikososial dan Budaya, Endang Mariani, menjelaskan bahwa penerapan gaya hidup YONO dapat memberikan dampak positif maupun negatif.
“Hal yang sudah pasti terjadi adalah budaya konsumtif akan berkurang. Kita bisa lebih berhemat dan mengurangi pemborosan atau belanja impulsif,” katanya dalam sebuah wawancara.
Manfaat lain dari gaya hidup YONO adalah peningkatan kesejahteraan mental. Dengan tidak lagi mengejar tren, masyarakat dapat mengurangi stres finansial dan memupuk solidaritas sosial.
“Kita tidak lagi mengejar-ngejar tren dan ambisius untuk memamerkan harta, tetapi menumbuhkan solidaritas sosial,” tambah Endang.
Namun, setiap tren memiliki tantangan tersendiri. Endang juga menyoroti kemungkinan dampak negatif terhadap perekonomian. Ketika masyarakat mulai mengurangi konsumsi, produksi barang mungkin ikut berkurang, yang pada akhirnya dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi.
“Dampak positif dan negatif pasti ada, tergantung bagaimana kita memanajemennya. Bagaimana kita bisa mengubah dampak negatif menjadi positif,” jelasnya.
Meski demikian, ada sisi positif lain yang tidak boleh diabaikan, terutama dalam hal lingkungan. Dengan menurunnya konsumsi dan produksi, polusi serta limbah dapat dikurangi secara signifikan. “Dampak negatif terhadap lingkungan juga berkurang, mengurangi polusi dan limbah,” tutup Endang.
Tren YONO menjadi alternatif yang menarik untuk menyeimbangkan kebutuhan pribadi, sosial, dan lingkungan. Dengan memprioritaskan kualitas dibanding kuantitas, gaya hidup ini menawarkan perspektif baru tentang cara mencapai kebahagiaan sejati. [ian]






