Jember (beritajatim.com) – Gudang beku terintegrasi atau integrated cold storage yang dikelola Dinas Perikanan Kabupaten Jember, Jawa Timur, kini mangkrak dan mengalami kerusakan. Tradisi nelayan membuat Dinas Perikanan kesulitan mencari penyewa.
Kepala Dinas Perikanan Jember Indra Tri Purnomo mengatakan, gedung beku terintegrasi tersebut dibangun oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) di Desa Puger Kulon, Kecamatan Puger, pada 2018. Ada dua unit gudang beku yang masing-masing berkapasitas 50 ton dengan ice flake machine lima ton, dan dilengkapi daya listrik sebesar 240 kilo volt ampere.
Biaya operasional gudang beku ini cukup mahal. Setiap bulan, penyewa harus siap mengeluarkan dana Rp 10 juta hingga Rp 12 juta per bulan untuk listrik. “Itu belum digunakan. Kalau berfungsi, butuh biaya Rp 40 juta – 50 juta oer bulan untuk listriknya saja,” kata Indra, Rabu (16/10/2024).
Kontrak terakhir dengan penyewa pada 2022. Sebenarnya kontrak disepakati lima tahun. “Tapi setelah satu tahun mereka merugi. Akhirnya mereka memutus kontrak,” kata Indra.
Praktis sejak itu, gudang beku tersebut tidak termanfaatkan dengan baik dan mengalami kerusakan di sejumlah bagian. “Tidak ada anggaran pemeliharaan, sehingga korosi sangat massif terjadi, terutama disebabkan dekat laut, sampai kena kelistrikan dan mesin,” kata Indra.
Indra memperkirakan butuh anggaran setidaknya lebih dari Rp 2 miliar untuk membenahi semua. “Cold storage ini ongkosnya tinggi, karena teknologinya standar internasional. Kami perlu mengunduh anggaran pemeliharaan dari pusat juga, embuh yak opo carane (entah bagaimana caranya, red),” katanya.
“Kalau memang anggaran daerah terbatas ya kami berusaha ke pusat. Tapi sekarang pemeliharaannya kecil-kecil dulu, yang penting operasionalnya berjalan. Kita pikirkan sewanya,” kata Indra.
Sebenarnya pada 2024 ada pihak yang berminat menyewa. “Namun dia mundur, karena harga hasil apraisal dipatok pada angka Rp 250 juta per tahun. Ternyata tidak mampu. Lalu sempat ada penyewa juga, hasil apraisalnya Rp 186 juta per tahun,” kata Indra.
Indra menyampaikan bahwa kondisi mesin rusak dan mengalami korosi. “Butuh banyak pembenahan. Dihitung-hitung, dia mulanya sanggup. Rencananya gudang beku itu hendak disewa selama lima tahun,” katanya.
Namun penyewa tersebut akhirnya mundur teratur, karena tidak bisa menemukan pasokan ikan di pasaran untuk dibeli dan disimpan. “Penjualan ikan di Puger sudah ada jalurnya sendiri-sendiri. Nelayan setor ikan ke pengambek (pengijon, red). Ini yang akan jadi kajian kami ke depan,” kata Indra.
Indra akhirnya mencoba menggandeng pengambek. “Kami minta untuk masuk. Tidak boleh gratis. Nominal sewanya tergantung apraisal,” katanya. [wir]






