Mojokerto (beritajatim.com) – Tahun ajaran baru 2024/2025 ternyata tidak membuat perajin tas di Kabupaten Mojokerto semringah. Mereka justru mengeluhkan omzet yang turun.
Seperti yang dialami salah satu perajin tas di Desa Kedungmaling, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto, Rizvian Miftakhudin (32) ini. Suami dari Nurul Zaskia (31) ini mengeluhkan turunnya omzet penjualan tas sekolah hingga 40 persen.
Kondisi ini berbeda dibanding di awal ia mulai menekuni bisnis keluarga sejak tahun 2000 lalu. Untuk nenambah omzet, bapak dua anak ini pun membuka toko bahan baku tas sejak 2018 lalu.
“Satu tahun, dua tahun ini tidak seperti tahun-tahun sebelum ada penjualan secara online. Saat ini, omzet mengalami penurunan hampir 40 persen. Saya lihat ini kompetitor transisi online jadi kayak ritel kena efek. Di online ada barang impor juga jadi produk lokal kalahnya di situ,” ungkapnya, Selasa (16/7/2024).
Menurut Rizvian, kompetitor terkait kualitas kembali ke konsumen. Namun untuk online, produk lokal kalah bersaing.
Kerajinan tas buatannya selama ini juga bekerjasama dengan sejumlah sekolah di Mojokerto Raya. Namun, banyaknya sales masuk sekolah menjadikan persaingan semakin ketat.
“Ya kita cari relasi baru. Istilahnya mencari pelanggan baru. Proses produksi, biasanya H-3 bulan sebelum tahun ajaran baru sudah fokus ajaran baru. Kebanyakan tas untuk TK dan SD, ia ada nama sekolahnya. Sekolah saat ini untuk menjaring siswa baru dikasih fee tas, seragam,” katanya.
Menurutnya, sejak tujuh tahun lalu ia sudah tidak lagi menjual tas buatannya ke pasaran namun hanya nemenuhi permintaan dari pesanan sekolah dan intansi. Lantaran selain tas sekolah untuk TK dan SD, ia juga membuat tas untuk instansi serta souvenir sehingga ia bekerjasama dengan sekolah dan instansi.
“Semenjak era pasar bebas, transisi online itu sudah kita cut (penjualan di pasaran). Tujuh tahun lalu, kayak ritel rumahan ramai, pesanan ramai. Saat itu, untuk permintaan di wilayah Bali saja sampai Rp90 juta saat tahun ajaran baru. Tahun 2017 ke bawah, ada sekitar 15-20 karyawan saat itu,” ujarnya.
Namun saat ini, jumlah karyawannya hanya delapan orang dengan omzet saat tahun ajaran tahun 2024/2025 sekitar Rp100 juta. Sehingga sejak tahun 2018 lalu, ia juga membuka toko bahan baku tas yang diambil langsung dari pabrik bahan baku pembuatan tas di Sidoarjo. Ia mengaku bisnis tersebut turunan dari orang tuanya, 24 tahun lalu.
“Tapi pas Imlek, di Cina libur satu bulan karena bahan dasarnya impor jadi untuk bahan baku kendala pas Imlek itu. Selain tahun ajaran baru, moment kegiatan pemerintah tujuh tahun yang lalu menjadi berkah tapi dua tahun ini banyak anggaran di cut jadi sepi. Acara kantor paling sekarang cuma 100-200, kalau dulu sampai 1.000-an,” jelasnya.
Harga tas di Yulia Jaya tempatnya, untuk TK mulai Rp30 ribu sampai Rp35 ribu, untuk SD Rp40 ribu sampai Rp75 ribu. Harga tersebut diterapkan sesuai dengan kekuatan pasar di Mojokerto Raya. Selain memenuhi pesanan sekolah dan instasi di Mojokerto, produknya juga banyak dipesan di sejumlah daerah di Jawa Timur. [tin/beq]






