Mojokerto (beritajatim.com) -Kabupaten Mojokerto menunjukkan kemajuan signifikan dalam pemenuhan kebutuhan dasar nonmakanan bagi penduduk miskin, khususnya pada aspek perumahan.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Mojokerto) tahun 2025, mayoritas rumah tangga miskin kini telah menempati hunian dengan kondisi yang semakin layak.
Kepala BPS Kabupaten Mojokerto, Dwi Yuhenny mengatakan perumahan menjadi salah satu komponen penting dalam penghitungan garis kemiskinan karena berpengaruh langsung terhadap kualitas hidup masyarakat.
Rumah yang layak bukan hanya tempat tinggal, tetapi juga berkontribusi besar terhadap kesehatan, pendidikan, perlindungan sosial, hingga peluang ekonomi.
“Karena itu, kondisi perumahan penduduk miskin menjadi indikator penting yang terus kami pantau,” ungkapnya, Rabu (28/1/2026).
Dari sisi atap rumah, BPS mencatat pada 2025 sebanyak 86,23 persen rumah tangga miskin di Kabupaten Mojokerto telah tinggal di rumah dengan atap terluas yang layak. Meski angka ini masih tergolong tinggi, persentasenya mengalami sedikit penurunan dibandingkan tahun 2021.
“Atap yang layak berperan penting melindungi rumah tangga dari cuaca ekstrem sekaligus mencegah risiko gangguan kesehatan akibat kebocoran, kelembapan, dan jamur,” katanya.
Sementara itu, kondisi dinding rumah menunjukkan capaian yang sangat baik. Pada 2025, 100 persen rumah tangga miskin di Kabupaten Mojokerto tercatat telah menempati rumah dengan dinding terluas yang layak. Angka ini meningkat dibandingkan tahun 2021 yang masih berada di level 98,52 persen.
“Dinding rumah yang layak tidak hanya menjaga keamanan dan kesehatan, tetapi juga martabat serta privasi penghuni rumah,” ujarnya.
Perbaikan paling signifikan terlihat pada kondisi lantai rumah. BPS mencatat pada 2025 seluruh rumah tangga miskin atau 100 persen telah memiliki lantai terluas yang layak. Angka ini melonjak 9,53 persen dibandingkan tahun 2021 yang masih sebesar 90,47 persen, sekaligus menjadi capaian tertinggi dalam lima tahun terakhir.
Selain struktur bangunan, aspek kesehatan perumahan juga mengalami peningkatan. Pada 2025, sebanyak 98,85 persen rumah tangga miskin telah memiliki akses air layak, meningkat dari 94,64 persen pada 2021. Tak hanya itu, penggunaan jamban sendiri atau bersama juga terus membaik.
Pada 2025 tercatat 91,66 persen rumah tangga miskin telah menggunakan jamban sendiri/bersama, naik dibandingkan tahun 2021 yang sebesar 87,98 persen. Dwi menegaskan, perbaikan kualitas perumahan merupakan salah satu kunci penting dalam memutus rantai kemiskinan.
“Pemenuhan aspek perumahan yang layak dan sehat akan sangat membantu penduduk miskin keluar dari lingkaran kemiskinan secara berkelanjutan,” pungkasnya. [tin/ted]






