Yogyakarta (beritajatim.com) – Sutradara ternama Fajar Nugros kembali menunjukkan kreativitasnya, kali ini bukan lewat layar lebar, melainkan melalui peluncuran komik berjudul Elang Jawa. Komik ini lahir dari kenangan masa kecilnya bersama sang ayah, H. Sudarto, yang kerap menemaninya berkeliling candi-candi di Yogyakarta dan Klaten setiap akhir pekan.
“Bapak saya itu bekerja di PJKA dan saat saya kecil bapak dinas di Bandung. Kalau pulang Jogja itu seminggu sekali, setiap minggu pagi adalah hari yang saya tunggu karena saat liburan itu bapak selalu mengajak keliling candi. Sepanjang jalan ke candi ini bapak selalu bercerita mengenai sejarah sejarah. Cara ini dilakukan supaya irit, saya enggak perlu jajan. Kalau jalan jalan ke toko kan pasti jajan nah kalau muter muter kelling candi tak perlu jajan udah seneng,” kenangnya.
Dalam perjalanan nostalgia itu, sang ayah sering menceritakan kisah-kisah tentang sejarah dan legenda candi yang mereka kunjungi mulai dari Candi Sambisari, Prambanan, hingga Ratu Boko. Namun, setelah dewasa, Fajar menyadari bahwa cerita-cerita yang dulu ia dengar ternyata bukan fakta sejarah, melainkan hasil imajinasi sang ayah sendiri.
“Saya dulu berpikir cerita Bapak itu nyata. Tapi setelah saya riset, ternyata banyak yang tidak nyambung dengan literatur sejarah. Dari situ saya sadar, Bapak saya ternyata sedang bercerita dari imajinasinya sendiri,” ungkapnya kepada beritajatim.com, Selasa petang (21/10/2025).
Dari kisah itulah lahir komik Elang Jawa, sebuah karya yang mengangkat cerita fiksi tentang penentuan batas antara Kraton Yogyakarta dan Surakarta. Dalam komik ini, sosok Elang Jawa menjadi simbol penting—burung yang dikeramatkan dan sering dikaitkan dengan kekuatan serta kebangsaan, sebagaimana Garuda yang menjadi lambang negara Indonesia.
Untuk mewujudkan karyanya, Fajar berkolaborasi dengan Apri Kusbiantoro, seorang komikus dan desainer yang sebelumnya terlibat dalam pembuatan opening film “Sultan Agung”.
“Saya kirim pesan langsung ke Apri. Saya cerita tentang ide Elang Jawa, dan dia langsung tertarik. Kami sepakat menggarapnya bersama,” ungkap pria asal Jogja ini.
Menurut Fajar, Elang Jawa bukan sekadar kisah tentang batas wilayah kerajaan, melainkan refleksi tentang hubungan manusia dengan sejarah, keluarga, dan imajinasi. Ia ingin menunjukkan bahwa sejarah tidak hanya hidup di buku, tetapi juga dalam cerita-cerita personal yang diwariskan secara lisan.
“Ini cara saya membingkai kenangan nostalgia Bapak. Cerita beliau dulu mungkin fiksi, tapi di situlah nilai yang justru menghidupkan imajinasi saya hingga sekarang,” tambahnya.
Fajar Nugros dikenal sebagai sutradara dan penulis naskah dengan karya-karya populer di dunia perfilman Indonesia. Ia memulai kariernya lewat berbagai film komedi dan drama yang sukses di pasaran. Namanya semakin dikenal lewat film “Yowis Ben”, “Srimulat: Hil yang Mustahal”, dan “Laundry Show”. Selain itu, ia juga pernah menulis dan menyutradarai film-film bertema nasionalisme dan sejarah, seperti “Sultan Agung: Tahta, Perjuangan, Cinta”.
Kreativitas Fajar yang kini menjelajah dunia komik menjadi bukti bahwa ia terus bereksperimen dalam bercerita—baik lewat kamera maupun gambar. Komik Elang Jawa menjadi langkah baru bagi sang sutradara dalam menggabungkan warisan budaya, sejarah, dan daya imajinasi yang kuat. [aje]






