Jakarta (beritajatim.com) – Hasil survei terbaru dari Political Weather Station (PWS) menunjukkan, elektabilitas pasangan capres-cawapres nomor urut 2 Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka sudah berada di angka 52,3 persen.
Dengan angka elektabilitas ini, kemungkinan besar Pilpres 2024 akan berlangsung satu putaran.
Survei PWS yang digelar pada tanggal 21-25 Januari 2024 di 34 provinsi ini melibatkan 1.220 responden. Margin of error survei ini adalah +/-2,81 persen, dan pada tingkat kepercayaan sebesar 95 persen.
“Seandainya pilpres dilaksanakan saat ini sebanyak 52,3% responden mengaku akan memilih pasangan Prabowo-Gibran,” ujar peneliti senior PWS, Sharazani dalam rilis hasil survei PWS secara daring, Jumat (26/1/2024).
Sementara itu, elektabilitas pasangan capres-cawapres nomor urut 1 Anies Baswedan dan Muhaimin Iskandar serta pasangan capres-cawapres nomor urut 3 Ganjar Pranowo dan Mahfud MD jauh tertinggal.
Dalam survei PWS tersebut, Anies-Cak Imin mencapai 23,3 persen, sedangkan Ganjar-Mahfud di angka 19,7 persen. Sebanyak 6,7 persen responden belum bisa memutuskan pilih pasangan mana atau undecided voters.
“Dengan melesatnya elektabilitas Prabowo-Gibran hingga menembus 52,3% secara matematis peluang untuk menyelesaikan Pilpres 2024 dalam satu putaran saja cukup terbuka lebar,” tandas Sharazani.
Selain tren perkembangan elektabilitas, dengan Prabowo-Gibran terus meningkat dan Anies-Cak Imin maupun Ganjar-Mahfud cenderung mandek, menurut Sharazani, terdapat beberapa faktor lain yang makin memungkinkan pilpres dapat berlangsung satu putaran.
Pertama, kata dia, pilpres satu putaran terjadi jika Presiden Joko Widodo (Jokowi) turun gunung dan dengan tegas berkampanye untuk Prabowo-Gibran. Hal ini tidak terlepas dari tingginya tingkat kepuasan publik terhadap Presiden Jokowi sehingga setiap pilihan politiknya cenderung diikuti oleh para simpatisannya.
“Kedua, semakin lemahnya dukungan terhadap PDI Perjuangan dan semakin banyaknya migrasi dukungan terhadap Prabowo-Gibran semakin memperkuat peluang pemilu satu putaran. Ketiga, semakin berkembangnya opini publik yang menghendaki pemilu cukup dilangsungkan satu putaran demi efisien anggaran, kepastian bisnis dan mengakhiri ketegangan politik,” jelas dia.
Meskipun sulit, kata Sharazani, peluang pilpres dua putaran masih bisa terjadi terutama karena hal-hal berikut ini. Pertama, tingkat kepuasan publik terhadap Presiden Jokowi tiba-tiba anjlok dan semakin banyak rakyat yang kecewa terhadap pemerintah.
Kedua, terjadi gejolak ekonomi yang parah yang menyebabkan rakyat banyak kesulitan mendapatkan kebutuhan pokok.
“Ketiga, pasangan Anies-Cak Imin maupun Ganjar-Mahfud tiba-tiba menampilkan strategi kampanye yang luar biasa yang sanggup membius simpati publik luas,” pungkas dia. (ted)






