Surabaya (beritajatim.com) – Kota Surabaya menjadi penyumbang terbesar kasus Tuberkulosis atau TBC di Provinsi Jawa Timur. TBC pada anak juga terbilang tinggi dengan total 179 kasus per 14 Maret 2023.
“Di Jawa Timur, Surabaya menjadi penyumbang terbesar. Kasus TB ini adalah penyakit dimana semakin banyak ditemukan, berarti lintas sektornya itu jalan,” ujar Priyo Susilo dari Dinas Kesehatan Kota Surabaya dalam Workshop Cup Cake Decoration and Talkshow yang digelar Ottimmo International, Dinkes Kota Surabaya dan REKAT, organisasi penyintas TBC di Artotel TS Suite Surabaya, Minggu (19/3/2023).
[berita-terkait number=”5″ tag=”TBC”]
Priyo menyebut, rata-rata anak penderita TBC berusia 1-14 tahun. Adapun gejalanya cukup bervariasi. “Bervariasi ya. Rumah sakit biasanya menemukan ada TBC yang di luar paru memang kecenderungannya (anak, red) sudah kurus, kemudian ada pembekakan persendian,” kata Priyo.

Dalam kegiatan ini, Ottimmo membuka pendaftaran workshop bagi ibu dan anak di Surabaya. Sedangkan hasil dari biaya pendaftaran tersebut disumbangkan pada pasien TBC yang membutuhkan. Sejak 2021 lalu, Ottimmo sendiri telah tergabung dalam tim percepatan eliminasi TBC di Surabaya.
“Setiap bulannya kami aktif memberikan makanan siap saji bagi pasen TBC, dan paling tidak satu tahun dua kali kami aktif memberikan kegiatan yang bertujuan untuk membuat pasien atau keluarga pasien dapat membangun ekonomi kreatif melalui kegiatan workshop memasak,” kata Humas Ottimmo International, Baresa Margi Mukti.
Icha, sapaannya itu juga menjelaskan, bahwa Indonesia menjadi negara dengan kasus TBC terbanyak di dunia. Sedangkan Jawa Timur menjadi provinsi dengan penyumbang terbanyak. “Melihat itu, maka Surabaya selaku ibu kota Jawa Timur bergerak cepat melakukan aksi penanganan untuk menekan jumlah TBC,” tandasnya.
Sebagai informasi, Workshop Cup Cake Decoration and Talkshow ini dilaksanakan di Artotel TS Suite Surabaya. Di situ terdapat dua sesi sharing, yakni pemaparan dari Dinkes Kota Surabaya dan REKAT. [ipl/kun]






