Surabaya (beritajatim.com) – Kota Surabaya resmi memulai implementasi proyek dekarbonisasi sektor bangunan gedung melalui proyek Sustainable Energy Transition in Indonesia (SETI). Program yang merupakan kerja sama antara Direktorat Jenderal EBTKE Kementerian ESDM dan GIZ Jerman.
SETI adalah program bilateral Indonesia-Jerman yang berjalan sejak 2023-2028. Program SETI berfokus pada dukungan transisi energi di sektor industri dan bangunan, terutama melalui penerapan energi terbarukan dan efisiensi energi di perkotaan.
Direktur Aneka Energi Baru dan Energi Terbarukan Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Andriah Feby Misna mengatakan, proyek ini menjadi bentuk dukungan nyata pemerintah pusat dan mitra pembangunan kepada pemerintah kota. Tujuannya dalam mempercepat transisi energi, khususnya di sektor bangunan.
“Surabaya merupakan kota kedua terbesar di Indonesia dengan potensi ekonomi yang sangat besar dan akan terus berkembang. Selain itu, Surabaya memiliki beberapa keunggulan, antara lain potensi penghematan energi yang besar, telah menerapkan sertifikasi bangunan hijau, potensi pertumbuhan sektor konstruksi yang tinggi, serta kapasitas dan kemampuan yang tinggi dari pemangku kepentingan lokal,” kata Feby dikutip, Kamis (17/4).
Oleh karena itu, Feby melanjutkan, bahwa Surabaya ini didorong menjadi kota percontohan dalam proyek SETI. Tujuannya agar bisa menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi dengan upaya dekarbonisasi menuju kota yang rendah karbon dan berkelanjutan.

Data SETI tahun 2024 mencatat, terdapat hampir 650 ribu bangunan di Surabaya. Dari jumlah tersebut, 3 persen adalah bangunan pemerintah, 7 persen bangunan komersial, dan sisanya merupakan bangunan residensial. Dukungan dari proyek SETI diharapkan bisa membantu Kota Surabaya merancang dan mengevaluasi langkah-langkah dekarbonisasi secara menyeluruh.
“Jika dekarbonisasi di sektor bangunan melalui penggunaan tenaga surya atau sumber energi terbarukan lainnya, dan implementasi efisiensi energi di gedung dapat diimplementasikan dengan baik di Kota Surabaya dengan dukungan kebijakan-kebijakan pemerintah dalam upaya dekarbonisasi serta dukungan proyek SETI. Hal ini akan membantu menurunkan emisi gas rumah kaca secara nasional dan meningkatkan kemandirian energi yang juga menjadi target pemerintah pusat, dan model yang diterapkan di Surabaya dapat diadaptasi dan diterapkan di kota-kota lain di Indonesia,” ucapnya.
Dalam kesempatan yang sama, Direktur Program Energi GIZ, Lisa Tinschert, menyampaikan kesiapan komprehensif GIZ untuk mendampingi Surabaya dalam dekarbonisasi ini. Termasuk studi perencanaan, bantuan teknis, serta pengembangan kapasitas.
“Dengan dimulainya implementasi proyek SETI di Surabaya ini, Pemerintah Kota Surabaya akan mendapat dukungan dari SETI dalam bentuk studi perencanaan, bantuan teknis, pengembangan kapasitas, pelibatan dalam jejaring energi perkotaan, dan bantuan-bantuan lain yang disepakati bersama. SETI siap mendukung ambisi pemerintah Kota Surabaya dalam upaya dekarbonisasi sektor energi,” ujar Lisa.
Sementara itu, Sekretaris Daerah Kota Surabaya, Ikhsan, menyampaikan upaya implementasi dekarbonisasi sektor bangunan ini sejalan dengan agenda berkelanjutan yang telah dijalankan oleh Pemerintah Kota Surabaya. Contohnya adalah penerapan efisiensi energi dan penggunaan material ramah lingkungan pada bangunan gedung Balai Kota Surabaya dan Terminal Intermoda Joyoboyo.
“Kami merasa bangga karena terpilih menjadi pionir dalam melakukan dekarbonisasi di sektor bangunan. Kami akan bekerja sama dengan berbagai pihak untuk menjadikan Surabaya sebagai kota layak huni dan berkelanjutan, khususnya di sektor bangunan melalui proyek SETI,” kata Ikhsan.
Keterlibatan Surabaya pada proyek ini menjadi momentum penting dalam mewujudkan kota yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. Pada tahap awal, proyek akan difokuskan pada perencanaan, penyusunan strategi, dan pelaksanaan proyek percontohan efisiensi energi di berbagai jenis bangunan, termasuk gedung pemerintah, komersial dan residensial.
“Selama kurang lebih tiga bulan ke depan akan dilakukan survey dan pendataan secara menyeluruh. Kita akan melihat profil gedung-gedung di Kota Surabaya, mana yang sudah hemat energi dan mana yang potensinya masih bisa dikembangkan,” tutupnya. [ram/but]






