Surabaya (beritajatom.com) – Surabaya bakal punya kawasan pesisir baru yang setara dengan Shanghai dan Singapura. Hal ini bakal terwujud melalui Surabaya Waterfront Land (SWL), yang masuk dalam daftar Proyek Strategis Nasional (PSN).
Mega proyek senilai Rp72 triliun ini akan mereklamasi lahan seluas 1.084 hektar. Proyek ini bakal mengubah wajah kota menjadi waterfront megah yang menyaingi Singapura dan Shanghai.
Agung Pramono, Pimpinan Proyek PT Granting Jaya selaku kontraktor pemenang tender, mengungkapkan proyek ini akan memakan waktu 20 tahun. Dengan 15 tahun pertama difokuskan pada pematangan lahan, termasuk proses reklamasi yang diperkirakan berlangsung selama 5-6 tahun.
“Proyek ini akan dimulai setelah izin reklamasi keluar, yang diharapkan selesai dalam waktu dekat. Kami akan segera melakukan sosialisasi kepada para nelayan dan pihak terkait lainnya,” ujar Agung Pramono ditulis Kamis, 18 Juli 2024.
Rencana reklamasi ini mencakup empat blok utama dengan peruntukan beragam. Blok A seluas 84 hektar akan menjadi pusat pariwisata dan hunian, lengkap dengan perkantoran, hotel, ruko, dan kawasan rekreasi. Blok ini juga akan memiliki area konservasi mangrove yang memperkaya ekosistem pesisir.
Blok B seluas 120 hektar akan didedikasikan untuk zona perikanan. Blok ini akan dilengkapi dengan pelabuhan modern, pasar ikan segar, cold storage, pusat lelang perikanan, fasilitas pemeliharaan kapal, pusat perbelanjaan, industri olahan hasil laut, UMKM hasil laut, balai latihan perikanan, pusat pembibitan serta perumahan nelayan modern.
Blok C seluas 260 hektar akan menjadi zona kemaritiman, menampung kompleks marina, museum maritim nasional, convention center, hotel, dermaga, pusat pengembangan ilmu pengetahuan kemaritiman, perguruan tinggi aspek kemaritiman, ruko, area komersial, villa estate, apartemen, dan kompleks pendidikan umum.
Blok D utara seluas 620 hektar akan menjadi pusat hiburan dan bisnis, dengan hall pertunjukan, hotel, apartemen,kompleks ruko, SWL Square, pasar produk ekonomi kreatif, dan industri zero emission yang ramah lingkungan.
Menurut Agung, SWL berpotensi sebagai pendukung logistik Ibu Kota Nusantara (IKN). Agung Pramono menekankan pentingnya melihat peluang dalam pengembangan wilayah segitiga Jakarta-Surabaya-IKN.
“Pengembangan wilayah adalah satu-satunya cara untuk memanfaatkan peluang ini. SWL akan menjadi salah satu kunci dalam memaksimalkan potensi Surabaya sebagai pusat ekonomi dan logistik di kawasan timur Indonesia,” pungkasnya. [asg/beq]






