Surabaya (beritajatim.com) – Dalam kehidupan kita tentu ada berbagai perasaan yang kita rasakan. Salah satunya adalah perasaan kecewa.
Beberapa orang seringkali menekan emosi, saat sedang kecewa. Mereka terkadang lebih memilih untuk tidak meluapkan karena alasan tertentu dan memilih menyembunyikannya. Inilah yang disebut dengan supresi.
Secara psikologi, supresi berarti tindakan yang dilakukan secara sadar untuk menutupi pikiran, perasaan atau dorongan terhadap perilaku tertentu. Salah satu perasaan yang seringkali disembunyikan seseorang adalah marah, kecewa dan kesal.
Ada kalanya memang supresi baik untuk dilakukan. Tapi terkadang ini menjadi masalah apabila hanya satu-satunya cara yang dilakukan untuk mengendalikan marah.
Bahayanya apabila emosi marah terus ditahan pada jangka waktu lama dan tidak diselesaikan, maka akan memicu respon psikologis yang terganggu sehingga amarah yang ditekan tidak kunjung hilang.
[berita-terkait number=”5″ tag=”cara”]
Beberapa konsekuensi negatif dari supresi dapat menyangkal sisi kemanusiaan sehingga kita tidak dapat menerima seutuhnya diri kita. Faktanya, memang setiap amarah hanya memiliki dua pilihan yaitu ditekan atau dilepaskan. Namun, sisi negatif selalu ada saat kita menekan rasa marah.
Jika kita terlalu sering menekan emosi akan berdampak pada kesulitan memahami perasaan orang lain, khususnya perasaan marah sehingga berimbas pada berkurangnya rasa empati.
Tanpa kita sadari perasaan marah dapat menghabiskan banyak energi. Dampaknya, keadaan dapat membuat seseorang sulit fokus.
Sebenarnya, ketika kita sedang merasa perasaan marah ada pesan tersembunyi. Namun, memahami pesan itu merupakan tantangan tersendiri bahkan cara membangun kesadaran aman terhadap rasa marah, mengelolanya tanpa menekan dan menyampaikan secara apa adanya.
Keterampilan berkomunikasi merupakan kunci dalam melontarkan perasaan marah. Manfaatnya agar kita dapat bertanggungjawab dengan emosi yang dirasakan.
Marah bukanlah sesuatu yang dilarang. Hanya saja, kita perlu mengetahui konteksnya terlebih dahulu. Ketika terus menerus menahan emosi, maka hal ini dapat meluapkan seakan tanpa kendali yang membuat kita sulit mengendalikannya. Lebih baik untuk meluapkan perasaan dibandingkan hanya memedammnya saja. Cukup sampaikan yang dirasakan sesuai kebutuhannya, jangan hanya ditekan. (prd/nap)






