Surabaya (beritajatim.com) – Wali Songo menjadi salah satu jajaran elite penyebar Islam yang kisahnya selalu disebut-sebut hingga saat ini. Pendakwah masyhur berjumlah sembilan orang yang menyebar pada wilayah-wilayah di Tanah Jawa.
Masing-masing Wali Songo memiliki peta dakwahnya sendiri. Salah satunya, cucu Bupati Tuban melalang buana menebar ajaran Islam. Mengamalkan keilmuan yang langsung diturunkan dari ayahandanya, Mahaguru Wali Songo.
Cucu Bupati Tuban itu bernama Raden Makhdum Ibrahim atau lebih dikenal Sunan Bonang. Sunan Bonang merupakan anak kandung dari Ali Rahmatullah (Sunan Ampel dengan ibunya yang memiliki darah bangsawan Majapahit, Dewi Condrowati bergelar Nyai Ageng Manila.
Sang Ibunda, Dewi Condrowati sendiri merupakan putri dari Bupati Tuban bernama Arya Teja dan memiliki kakek seorang Adipati Surabaya, Arya Lembusura. Ayahandanya, Sunan Ampel pun merupakan keturunan darah biru dari Kerajaan Champa.
Sunan Ampel adalah putra kedua dari Ibrahim as-Samarqandi dengan putri Raja Champa, Dewi Condrowulan. Sebagai salah satu jajaran Wali Songo, Sunan Bonang yang tumbuh dalam lingkungan ningrat telah dipersiapkan sejak dini oleh Sunan Ampel menjadi pewaris keilmuannya.
Meski menyandang cucu dari Bupati Tuban, sosok Raden Makhdum Ibrahim dibesarkan dalam lingkup pesantren yang didirikan ayahnya. Pesantren Ampeldenta yang berada di Surabaya jadi tempat pertamanya mendapat bekalnya kelak.

Raden Makhdum Ibrahim juga memiliki saudara kandung yang kelak menjadi teman seperjuangannya di Wali Songo. Raden Syarifuddin (Sunan Drajat) namanya. Dua kakak beradik didikan Pesantren Ampeldenta ini yang nantinya mewarisi keilmuan dari Sunan Ampel untuk menjadi pendakwah masyhur di Tanah Jawa.
Memiliki privilege sebagai cucu seorang Bupati, Sunan Bonang memanfaatkannya untuk belajar kebudayaan demi lebih dekat dengan masyarakat. Pembelajaran kebudayaan Sunan Bonang dilakukan di Kadipaten Tuban.

Berada di Kadipaten yang memiliki fasilitas lebih mumpuni, Sunan Bonang pun belajar mengenai kesastraan dan pemerintahan. Tak hanya cukup berada di Kadipaten, Sunan Bonang sempat berpetualang hingga Tartar dan mendapat panggilan Bong An.
“Masa kecilnya berada di Surabaya, tapi juga sering ke Tuban karena kakeknya ada disini (Tuban). Disini lah beliau (Sunan Bonang) sering belajar tentang budaya. Di Kadipaten itu ada seperangkat alat-alat musik, ada belajar kesastraan, belajar tentang pemerintahan, dan lain-lain. Disini lah Sunan Bonang mulai mengenal budaya,” ungkap H. Hidayaturrahman, S.H., M.H, Sekretaris Yayasan Mabarrot Sunan Bonang Tuban pada Minggu, 17 Maret 2024 lalu. [beq]






