Kediri (beritajatim.com) – Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Kediri mencatat terjadi deflasi pada Bulan Oktober 2022 sebesar -0,21 persen. Capaian ini lebih baik jika dibandingkan dengan inflasi bulan September 2022 yakni sebesar 1,36 persen.
“Deflasi di Kota Kediri ini terjadi karena harga beberapa komoditas bahan makanan turun di bulan lalu,” ujar Lilik Wibawati, Kepala BPS Kota Kediri, Selasa (22/11/2022).

Lilik menyebutkan sejumlah komoditas penyumbang inflasi di antaranya: bensin menyumbang inflasi sebesar 1,56 persen, beras 0,33 persen, rokok kretek filter 0,30 persen, nasi dengan lauk 0,27 persen, sabun mandi 0,19 persen, telur ayam ras 0,17 persen, upah asisten rumah tangga 0,17 persen, kontrak rumah 0,16 persen, mie 0,15 persen, serta cabai rawit 0,13 persen.
Di samping komoditas penyumbang inflasi, terdapat pula beberapa komoditas yang menghambat inflasi, yakni: minyak goreng menyumbang deflasi sebesar -0,133 persen, tomat -0,064 persen, kopi bubuk -0,036 persen, bayam -0,030 persen.
[berita-terkait number=”4″ tag=”Kota-Kediri”]Ayam hidup -0,025 persen, kangkung -0,17 persen, bawang putih -023 persen, biaya administrasi transfer uang -0,018 persen, nangka muda -0,016 persen dan kacang panjang -0,014 persen.

“Dampak perubahan musim kemarau menuju musim penghujan juga patut diwaspadai berkaitan dengan persediaan bahan makanan,” tandas Lilik.
Di lain kesempatan, Chevy Ning Suyudi, Kepala Bappeda sekaligus Koordinator TPID Kota Kediri mengemukakan bahwa penurunan angka inflasi di Kota Kediri disebabkan akibat adanya solusi jitu Pemkot Kediri yakni penerapan program Siaga Inflasi Aman dan Terkendali (Siasat).

Sehingga di bulan ini kita bisa mengendalikan harga-harga di luar efek dari kenaikan harga BBM,” jelasnya, Selasa (22/11/2-22).
Lebih lanjut lagi, kata Chevy, masyarakat kini dapat memantau harga komoditas di pasaran setiap saat melalui website Siasat.
Berdasarkan catatan deflasi yang dialami Kota Kediri, Pemkot Kediri menginterpretasikan proyeksi daya beli masyarakat di Kota Kediri terjadi dengan baik.
“Dengan harga sembako yang bisa kita kendalikan orang masih punya kemampuan untuk beli BBM meskipun harga naik tapi masih bisa beli sembako, yang bahaya adalah kalau BBM naik harga sembako juga naik. Ini tugas kami di TPID untuk bisa menjaga stabilitas harga,” tegasnya. [nm/but]






