Jember (beritajatim.com) – Jumadi Made, calon legislator dari Partai Nasional Demokrat, mengamuk di kantor Kecamatan Ajung, Kabupaten Jember, Jawa Timur, Jumat (16/2/2024). Gara-gara suara yang diperolehnya hilang.
Jumadi adalah caleg Nasdem untuk DPRD Jember bernomor urut 6 di Daerah Pemilihan 1. Daerah Pemilihan 1 meliputi Kecamatan Ajung, Kaliwates, Sumbersari, dan Pakusari.
Tim sukses Jumadi menemukan perbedaan jumlah suara yang diperolehnya antara yang tercatat di C1 Hasil dan C1 Hasil Salinan di salah satu tempat pemungutan suara (TPS) di Desa Pancakarya, Kecamatan Ajung, Kamis malam (15/2/2024). “Di salinan C1 Hasil, suara saya tidak ada. Sementara di C1 Hasil atau plano yang besar, saya dapat 15 suara,” kata Jumadi.
Kemarahan Jumadi pun memuncak. Ia mendatangi kantor Kecamatan Ajung hari ini untuk menanyakan hal tersebut kepada Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) dan meminta agar kotak suara yang menyimpan hasil pemumgutan suara dibongkar.
Tak sabar, Jumadi melabrak sejumalah petugas pemilu dan pemerintah kecamatan di sana. “Ini nyata-nyata dicuri!” teriaknya.
Jumadi menuduh ada dua anggota KPPS yang terindikasi sebagai bagian dari tim pemenangan salah satu partai. “Dua orang ini tidak masuk kategori KPPS. Tidak ada tes. Begitu kurang satu minggu, dua orang ini masuk. Dan dari semua anggota KPPS ini, ada yang cuma lulusan SMP,” katanya.
“Jangan bilang suara saya tidak hilang. Ini suara saya pasti lari ke partai lain. Ayo demokrasi yang adil. Nyata ini. Di kertas C plano besar semua saksi tanda tangan. Di plano kecil (C-1) cuma satu yang tandatangan. Mana mau maju negara kita kalau seperti ini,” kata Jumadi.
Usai melabrak kantor Kecamatan Ajung, Jumadi menuju kantor Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Jember untuk melaporkan hal ini. “Memang saya sangat marah, karena untuk mencari suara sangat sulit. Kok seenaknya petugas KPPS (Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara) mengubah,” katanya.
Jumadi menginginkan apa yang menimpanya menjadi pelajaran jajaran penyelenggara. “Ini buat pelajaran penyelenggara, baik PPS (Panitia Pemungutan Suara) maupun PPK (Panitia Pemilihan Kecamatan), agar hati-hati dan betul-betul jujur menjaga hasil suara yang sudah tertulis,” katanya.
Lebih jauh, Jumadi menduga ada pemalsuan tanda tangan di kertas salinan C-1 Hasil. “Besoik saya pakai pengacara Partai Nasdem untuk melapor ke Polres Jember,” katanya.
Jumadi menyebut kualitas Pemilu 2024 buruk. “Sangat acak-acakan. Pemilihan KPPS diduga diintervensi oleh salah satu partai. Petugas KPPS berusia muda dan tidak berpengalaman dimasukkan,” katanya. [wir]






