Malang (beritajatim.com) – Menjelang bulan suci Ramadan, persiapan fisik dan batin menjadi kunci utama agar ibadah puasa berjalan lancar dan menyehatkan. Wakil Ketua Bidang Kesehatan Yayasan Universitas Islam Malang sekaligus Dokter Spesialis Penyakit Dalam RSI Unisma, dr. H. Hardadi Airlangga, Sp.PD, membagikan panduan mengenai strategi menjaga kesehatan selama bulan puasa.
dr. Hardadi, puasa bukan sekadar menahan lapar, melainkan sebuah sistem untuk memperbaiki kondisi fisik dan batin jika dilakukan dengan strategi yang tepat. Ada lima strategi yang bisa dilakukan saat puasa ramadan.

1. Membangun Kekuatan Jiwa dan Persiapan Bertahap
Langkah pertama yang paling fundamental adalah meneguhkan niat. Dr. Hardadi menekankan bahwa niat ibadah merupakan kekuatan jiwa yang secara otomatis akan memberikan energi pada fisik. Ia mengingatkan bahwa Islam telah memberikan ruang persiapan melalui bulan Rajab dan Sya’ban.
> “Persiapan batin dan fisik sudah dimulai sejak dua bulan sebelumnya. Ini adalah pemanasan agar saat memasuki Ramadhan, sistem tubuh kita sudah terbiasa dan sinyal-sinyal tubuh bergerak secara normal sesuai perintah Allah,” ujarnya pada beritajatim.com
2. Siasat Bagi Penderita Komorbid (Diabetes & Hipertensi)
Bagi masyarakat yang memiliki kendala fisik tertentu, seperti Diabetes Mellitus, Hipertensi, hingga Dislipidemia (gangguan lemak), dr. Hardadi menyarankan untuk segera berkonsultasi dengan dokter pribadi.
“Khusus penderita diabetes, jadwal minum obat yang biasanya pagi hari harus digeser ke waktu berbuka puasa. Penting untuk mengatur dosis dan strategi agar tubuh tetap fit meski memiliki riwayat penyakit kronis,” katanya.
3. Aturan Pola Makan: Rumus “Cicil” Cairan dan Nutrisi
Menjaga asupan saat berbuka dan sahur adalah kunci vital. Dr. Hardadi menyoroti bahwa tubuh akan kehilangan cairan selama 14 jam. Disarankan minum 8 hingga 10 gelas air yang dicicil antara waktu berbuka hingga sahur.
“ Utamakan konsumsi sayur, buah, dan ikan. Tiga elemen ini sangat efektif menjaga daya tahan tubuh. Bagi lansia, asupan susu dan telur sangat dibutuhkan untuk menjaga kekuatan tulang dan otot,” jelasnya.
Bagi pasien diabetes, takjil cukup dengan 3 butir kurma dan air putih sebagai pembuka yang aman.
4. Tata Cara Berbuka: Jangan Langsung Makan Besar
Kesalahan umum saat berbuka adalah langsung menyantap porsi besar. Dr. Hardadi memberikan urutan yang benar:
Takjil: Air putih dan 3 butir kurma. Jeda Shalat: Berikan waktu tubuh menyesuaikan diri dengan melaksanakan shalat Maghrib terlebih dahulu. Makan Utama: Konsumsi nasi secukupnya (sekitar 100 gram) ditambah sayur dan protein (ikan).
“ Makan terlalu banyak saat berbuka justru akan membuat tubuh lemas dan mengganggu kekhusyukan shalat Isya serta Tarawih,” katanya.
5. Pengaturan Olahraga Saat Berpuasa
Puasa bukan alasan untuk berhenti bergerak. Namun, dr. Hardadi menyarankan penyesuaian waktu dan intensitas. Waktu terbaik menurutnya mendekati waktu berbuka puasa (ngabuburit).
Jika dilakukan di pagi hari, turunkan dosisnya (misal: kurangi kecepatan jogging atau jarak tempuh). Di malam hari, cukup lakukan stretching atau peregangan. Hindari olahraga berat seperti gym di malam hari karena tubuh membutuhkan waktu untuk istirahat.
Menurutnya shalat Tarawih secara tidak langsung menjadi sarana olahraga fisik yang baik untuk kelenturan tubuh. Dengan menjaga pola makan dan manajemen stres yang baik, Ramadhan diharapkan menjadi momentum regenerasi fisik dan batin.
“Tujuannya adalah agar setelah satu bulan penuh, kita mendapatkan manfaat kesehatan yang paripurna,” pungkas dr. Hardadi. [dan/aje]






